Jakarta, Faseberita.id – Fenomena menarik terungkap dari data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait komoditas gula di Indonesia. Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budi Utomo Harmadi, menyatakan bahwa produksi gula nasional menunjukkan peningkatan signifikan, sementara di sisi lain, tingkat konsumsi masyarakat justru cenderung menurun. Kondisi ini, menurut Sonny, mencerminkan perbaikan ketahanan pangan sekaligus pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah yang lebih sehat.
"Yang menarik, konsumsi gula kita cenderung turun dari waktu ke waktu, termasuk konsumsi per kapitanya," ujar Sonny dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026), seperti dilansir dari Antara.

Lonjakan Produksi Gula Domestik
Sonny merinci, produksi gula nasional pada tahun 2025 mencapai 2,67 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan yang substansial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni 2,47 juta ton pada 2024 dan 2,23 juta ton pada 2023. Peningkatan produksi ini, menurut Sonny, utamanya didorong oleh ekspansi luas panen tebu.
"Salah satu penopang dari kenaikan produksi gula pada tahun 2025 adalah kenaikan luas panen dari tebu kita," jelasnya.
Luas panen tebu tercatat mencapai 563.000 hektar pada tahun 2025, naik dari 521.000 hektar pada tahun sebelumnya. Sebaran luas panen tebu terkonsentrasi di sejumlah provinsi utama yang menjadi sentra produksi nasional, meliputi Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Distribusi produksi gula kristal putih juga mengikuti pola serupa di berbagai provinsi penghasil utama, secara signifikan mendukung peningkatan produksi nasional.
Tren Konsumsi Gula Rumah Tangga dan Per Kapita yang Menyusut
Di tengah lonjakan produksi, data konsumsi gula menunjukkan tren yang kontras. Konsumsi gula rumah tangga secara nasional tercatat sekitar 1,4 juta ton, mendekati 1,5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Menariknya, angka konsumsi terkini sekitar 1,46 juta ton ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mencerminkan perubahan pola konsumsi.
Meski tidak merinci jumlah konsumsi gula di rumah tangga dalam periode dua atau tiga tahun terakhir, Sonny menegaskan adanya penurunan konsumsi gula di level rumah tangga. Lebih lanjut, konsumsi gula per kapita juga mengalami penurunan menjadi sekitar 5,15 kilogram per orang per tahun. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata konsumsi gula per kapita di Indonesia pada tahun 2023 yang mencapai 5,8 kilogram per orang per tahun, sejalan dengan tren penurunan konsumsi komoditas lain seperti garam.
Pergeseran Pola Konsumsi dan Kesadaran Hidup Sehat
Menurut Sonny, penurunan konsumsi gula tersebut diduga kuat dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. Selain itu, terjadi pergeseran preferensi konsumsi menuju makanan jadi yang diproduksi oleh industri maupun sektor jasa.
"Sehingga mereka tidak membeli gula secara langsung tetapi menggunakan makanan jadi yang dihasilkan baik oleh industri maupun oleh restoran," paparnya.
Dominasi Penggunaan Gula di Sektor Industri
Adapun konsumsi gula di level rumah tangga hanya mencakup sekitar 23,13 persen dari total penggunaan gula nasional. Hal ini menunjukkan dominasi penggunaan gula pada sektor lain di luar konsumsi langsung masyarakat.
Sektor industri pengolahan menjadi pengguna terbesar gula dengan volume mencapai hampir 3,9 juta ton, mencerminkan tingginya aktivitas industri berbasis gula di Indonesia sepanjang tahun 2025. Selain itu, sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) turut menyumbang penggunaan gula sebesar lebih dari 970.000 ton sebagai bagian dari kebutuhan layanan konsumsi masyarakat.
Secara keseluruhan, total penggunaan gula nasional pada tahun 2025 mencapai 6.330.690 ton, mengindikasikan tingginya kebutuhan gula untuk berbagai sektor ekonomi dan konsumsi masyarakat.
Paradoks Impor di Tengah Peningkatan Produksi
Meskipun produksi domestik menunjukkan peningkatan yang signifikan, Indonesia masih melakukan impor gula. Pada tahun 2025, volume impor gula mencapai 3,93 juta ton, dengan pasokan utama berasal dari Brasil, Thailand, dan Australia. Ketergantungan impor ini menunjukkan bahwa meskipun produksi dalam negeri tumbuh, kebutuhan gula nasional yang masif, terutama dari sektor industri, masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh pasokan domestik.







