faseberita.id – Dunia teknologi sedang dikejutkan oleh langkah drastis otoritas pasar modal China yang mulai memperketat pintu masuk bagi perusahaan rintisan (startup) di sektor robot humanoid. Kebijakan baru ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran global mengenai potensi gelembung ekonomi atau bubble pada sektor kecerdasan buatan (AI) yang sedang mengalami lonjakan valuasi yang tidak wajar.
Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC) dilaporkan telah menyiapkan standar baru yang lebih ketat bagi perusahaan yang bergerak di bidang embodied AI—teknologi AI yang diintegrasikan ke dalam perangkat fisik seperti robot humanoid—yang ingin melakukan penawaran umum perdana (IPO). Berdasarkan informasi yang dihimpun, regulator menetapkan tiga kriteria utama yang harus dipenuhi oleh calon emiten. Meskipun terdapat indikasi bahwa perusahaan cukup memenuhi dua dari tiga kriteria tersebut, para analis memprediksi bahwa hanya segelintir startup, atau bahkan tidak ada sama sekali, yang akan mampu menembus standar tinggi ini.

Langkah preventif ini diambil di tengah fenomena antrean panjang perusahaan AI di bursa Hong Kong. Setidaknya ada dua lusin perusahaan terkait teknologi humanoid yang telah mengajukan pencatatan saham di sana. Meski Hong Kong telah memberikan kelonggaran bagi perusahaan teknologi untuk mengajukan IPO secara rahasia sejak Mei 2025, perusahaan asal daratan China tetap wajib mendapatkan restu dari CSRC sebelum melantai di bursa internasional tersebut.
Ketegangan di sektor ini semakin memuncak menyusul fluktuasi harga saham yang ekstrem. Unitree, salah satu ikon industri robotika China, sempat mencatatkan sejarah dengan lonjakan saham lebih dari 460% pada hari pertama IPO-nya di Shanghai. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Harga saham Unitree kini telah merosot hampir separuh dari nilai puncaknya. Pendiri Unitree, Wang Xingxing, bahkan sempat memberikan peringatan keras bahwa komersialisasi robot humanoid yang sesungguhnya masih membutuhkan waktu bertahun-tahun, jauh dari sekadar aksi hiburan seperti robot penari.
Kondisi serupa juga dialami oleh Ubtech, perusahaan yang sudah melantai di Hong Kong sejak akhir 2023, di mana nilai sahamnya anjlok lebih dari 40% sepanjang tahun ini akibat kerugian operasional yang masih membayangi.
Padahal, jika melihat arus modal, sektor ini tampak sangat bergairah. Data menunjukkan investasi pada sektor humanoid melonjak tajam hingga mencapai US$ 6,95 miliar pada kuartal II-2026, naik enam kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontradiksi antara derasnya aliran dana investasi dengan merosotnya harga saham inilah yang memicu kekhawatiran regulator akan adanya ketimpangan valuasi.
Analisis dari Rhodium Group juga menyoroti bahwa banyak startup AI di China memiliki rasio valuasi terhadap pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan pesaing mereka di Amerika Serikat. Dengan aturan baru yang lebih ketat, China tampaknya sedang berusaha melakukan "pendinginan" pasar untuk memastikan bahwa pertumbuhan industri robotika mereka didasarkan pada fundamental bisnis yang kuat, bukan sekadar spekulasi teknologi semata.







