faseberita.id – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, baru-baru ini memberikan pernyataan yang menarik perhatian publik. Dalam sebuah persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur terkait kasus dugaan fitnah ijazah, Jokowi secara terbuka menyebut profesinya saat ini adalah seorang wiraswasta. Pernyataan singkat tersebut seolah membuka kembali lembaran lama mengenai rekam jejak sang mantan pemimpin negara yang ternyata memiliki latar belakang sebagai pengusaha sukses sebelum terjun ke kancah politik.
Jauh sebelum dikenal sebagai tokoh nasional, Jokowi adalah seorang pengusaha mebel yang berbasis di Solo, Jawa Tengah. Perusahaan yang ia rintis, PT Rakabu Sejahtra, merupakan pilar utama yang membangun kemapanan ekonominya. Berdasarkan data yang dihimpun, perusahaan manufaktur furnitur ini sempat memiliki visi besar untuk menjadi eksportir profesional yang mengedepankan kepercayaan klien. Meski saat ini situs resminya sudah tidak aktif, jejak sejarah perusahaan ini mencatat bahwa mereka pernah memiliki ratusan karyawan.

Perjalanan karier Jokowi tidaklah instan. Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1985, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan kertas bernama PT Kraft Aceh. Namun, pengalaman di sana tidak berlangsung lama. Jokowi mengaku tidak betah dengan budaya kerja yang dianggapnya terlalu otoriter. Ketidaknyamanan inilah yang memicu keputusannya untuk pulang ke kampung halaman di Solo pada tahun 1987.
Di Solo, ia memulai langkah dari bawah. Dengan modal tabungan gaji, ia mencoba peruntungan di sektor kayu, namun sempat kembali menjadi karyawan di perusahaan milik saudaranya, Miyono, untuk mengumpulkan modal yang lebih besar. Di sana, Jokowi tidak canggung melakukan pekerjaan kasar seperti menggergaji, menyerut, hingga mengangkut barang ke kontainer. Pengalaman lapangan inilah yang kemudian membentuk mentalitas bisnisnya, mulai dari desain, pemasaran, hingga manajemen sumber daya manusia.
Keberaniannya memuncak pada 21 Februari 1988, saat ia mendirikan CV Rakabu di sebuah kios kecil di kawasan Kadipiro, Solo. Dengan modal awal hasil pinjaman bank sebesar Rp30 juta, ia memulai bisnis dengan hanya tiga orang karyawan. Masa-masa awal sangatlah berat; Jokowi harus melakukan strategi "jemput bola" dengan mendatangi rumah-rumah yang sedang dibangun untuk menawarkan produknya.
Ujian terberat datang saat ia mencoba ekspansi ke Jakarta pada tahun 1990. Sebuah pesanan besar senilai Rp60 juta justru berakhir dengan penipuan. Pemesan melarikan diri setelah barang dikirim, yang mengakibatkan bisnisnya bangkrut seketika. Masa kelam ini sempat membuat Jokowi terpuruk dan bekerja serabutan. Namun, berkat dukungan modal dari ibundanya, Sudjiatmi, serta manajemen yang lebih ketat—seperti mewajibkan uang muka—bisnisnya bangkit kembali.
Momentum emas datang ketika ia mendapat suntikan modal dari Perusahaan Gas Negara (PGN) sebesar Rp500 juta. Hal ini memicu ekspansi besar-besaran hingga ke pasar internasional seperti Singapura, Australia, hingga Amerika Serikat. Pada periode 1994-1996, bisnis mebelnya melesat dengan kepemilikan delapan pabrik. Ketangguhan bisnisnya bahkan teruji saat krisis ekonomi 1997-1998, di mana Rakabu justru semakin berkembang di pasar global. Pengalaman jatuh bangun inilah yang membentuk karakter kepemimpinan yang ia bawa hingga ke kursi kepresidenan.







