faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG Bursa Efek Indonesia BEI menorehkan performa impresif pada penutupan perdagangan Rabu sore. Pasar modal domestik menunjukkan kekuatan luar biasa dengan IHSG melesat 15573 poin atau 271 persen mencapai level 590238. Kenaikan signifikan ini mencerminkan optimisme investor yang menyambut baik serangkaian kebijakan strategis dalam menghadapi dinamika pasar keuangan di tanah air. Tak ketinggalan indeks saham unggulan LQ45 juga turut melonjak 354 persen ke posisi 58948.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam analisisnya mengungkapkan bahwa kebangkitan IHSG ini didukung oleh berbagai faktor. Selain koreksi harga minyak mentah dunia yang memberikan sentimen positif penguatan nilai tukar rupiah juga turut menjadi pendorong. Namun yang paling krusial adalah sambutan hangat investor domestik terhadap respons pemerintah dalam menstabilkan pasar modal Indonesia.

Dari ranah domestik IHSG terus melanjutkan tren penguatan berkat respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan moneter dan pasar modal yang telah ditetapkan. Pada Selasa 9 Juni 2026 sebuah pembahasan penting digelar melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat Danantara Indonesia Himpunan Bank Milik Negara Himbara BPJS serta asuransi BUMN. Diskusi tersebut mengarah pada rencana program pembelian kembali saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps milik BUMN sebuah langkah yang diharapkan mampu menopang pasar.
Di hari yang sama Bank Indonesia BI juga mengambil langkah berani dengan menaikkan tingkat suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 550 persen melalui Rapat Dewan Gubernur RDG Mingguan. Kebijakan ini segera membuahkan hasil positif terhadap kurs rupiah yang langsung menguat 11400 poin atau 063 persen mencapai 17944 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu.
Meski demikian sentimen dari mancanegara menunjukkan gambaran yang berbeda. Bursa saham kawasan Asia justru melemah akibat tensi geopolitik yang memanas. Serangan bela diri AS terhadap Iran pasca insiden jatuhnya helikopter AS memicu kekhawatiran global. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak akan tinggal diam jika ada serangan atau ancaman. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan regional yang lebih luas dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga energi global yang tinggi akibat konflik regional ini memicu kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral. Pasar juga masih menanti data inflasi terbaru AS untuk sinyal kebijakan Federal Reserve The Fed.
Sepanjang hari perdagangan IHSG menunjukkan ketahanan luar biasa. Sempat dibuka melemah indeks segera bergerak ke teritori positif hingga penutupan sesi pertama dan tetap betah di zona hijau hingga akhir perdagangan.
Seluruh sebelas sektor berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC mencatat penguatan. Sektor transportasi dan logistik memimpin dengan kenaikan 443 persen disusul sektor teknologi 357 persen dan sektor properti 317 persen. Total frekuensi perdagangan saham mencapai 3105109 kali transaksi melibatkan 4667 miliar lembar saham senilai Rp3172 triliun. Sebanyak 571 saham menguat 148 melemah dan 96 tidak bergerak.
Kontras dengan performa IHSG bursa saham regional Asia sore ini justru mayoritas melemah. Indeks Nikkei turun 166 persen ke 6433000 indeks Shanghai melemah 042 persen ke 399323 indeks Hang Seng merosot 064 persen ke 2440796 dan indeks Strait Times anjlok 128 persen ke 495885.







