JAKARTA, faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu, 28 Januari 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini ditutup merosot tajam 7,34 persen, bertengger di level 8.321,22. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai pembekuan sementara proses rebalancing atau penyesuaian komposisi dan bobot saham-saham dari Indonesia.
Data perdagangan sesi pertama menunjukkan volume transaksi mencapai 42,8 miliar lembar saham, dengan frekuensi sebanyak 2,76 juta kali transaksi dan nilai total mencapai Rp 30 triliun. Angka-angka ini mencerminkan aktivitas jual yang masif di tengah kepanikan pasar.

Analisis dari Mirae Asset Sekuritas mengungkapkan bahwa tekanan jual melanda seluruh segmen pasar, termasuk saham-saham berkapitalisasi raksasa. Sebut saja BREN yang anjlok 14,5 persen, AMMN melemah 10,9 persen, dan BBCA yang terkoreksi 4,3 persen. "Seluruh indeks sektoral mengalami koreksi tajam, dengan penurunan terbesar dialami oleh IDX Infrastructure dan IDX Energy," tulis Mirae Asset Sekuritas dalam laporannya pada hari yang sama.
Sentimen Negatif Jangka Pendek dari MSCI
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai bahwa keputusan MSCI untuk membekukan sementara penyesuaian tersebut berpotensi menimbulkan sentimen negatif dalam jangka pendek. Sentimen ini, menurut Imam, terutama akan terasa dari sisi arus dana pasif dan investor institusi global yang selama ini menjadikan indeks MSCI sebagai acuan utama investasi mereka.
"Dengan tidak adanya kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), Number of Shares (NOS), serta ditiadakannya penambahan saham baru maupun migrasi naik kelas, potensi inflow struktural ke pasar Indonesia menjadi tertahan," jelas Imam kepada Tempo pada Rabu, 28 Januari 2026. Kondisi ini, lanjutnya, dapat memicu kehati-hatian investor asing dan berujung pada aksi jual selektif, khususnya pada saham-saham yang sebelumnya diantisipasi akan mendapatkan peningkatan bobot indeks.
Transparansi Kepemilikan Saham Jadi Sorotan Utama
Pembekuan sementara penyesuaian terhadap komposisi dan bobot saham-saham Indonesia ini merupakan kelanjutan dari penilaian MSCI terhadap free float saham di dalam negeri. Dalam keterangan resminya, MSCI menyatakan bahwa keputusan pembekuan ini didasari oleh kekhawatiran investor terhadap transparansi struktur kepemilikan saham.
"Meskipun telah ada perbaikan minor terhadap data float PT Bursa Efek Indonesia, investor menyoroti bahwa masalah fundamental terkait kemampuan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat," ungkap MSCI dalam pengumumannya.
Sebagai konsekuensi dari pembekuan ini, MSCI menegaskan tidak akan menerapkan peningkatan pada Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, MSCI juga tidak akan melakukan penambahan indeks pada MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta meniadakan migrasi naik antarsegmen, termasuk dari Small Cap ke Standard Index. Keputusan ini secara efektif menahan potensi peningkatan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global untuk sementara waktu.







