faseberita.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengungkap proyeksi optimis terkait kondisi ekonomi Indonesia untuk tahun 2027. Dalam rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat pada Rabu 10 Juni 2026, Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga inflasi pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen. Langkah ini krusial demi mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Strategi utama dalam menstabilkan inflasi melibatkan sinergi erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Pemerintah berfokus pada upaya menjaga pasokan serta stabilitas harga komoditas esensial, khususnya pangan dan energi. Selain itu, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah juga terus mewaspadai risiko inflasi impor melalui koordinasi intensif dengan bank sentral. Sinergi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, bersama otoritas moneter yang tergabung dalam Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah TPIP TPID akan terus diperkokoh demi memastikan efektivitas pengendalian harga.

Purbaya juga menyoroti penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan keduanya berjalan selaras tanpa menimbulkan efek crowding out. Tujuannya adalah menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan, yang pada gilirannya akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Ia memproyeksikan perbaikan signifikan pada situasi global, termasuk meredanya konflik geopolitik seperti perang Iran dan AS-Israel. Kondisi ini diharapkan akan berdampak positif pada stabilitas suku bunga Surat Berharga Negara SBN tenor 10 tahun, yang diperkirakan akan berada di rentang 6,5 hingga 7,3 persen.
Guna meningkatkan kepercayaan pasar dan memperkuat pasokan valuta asing domestik, pemerintah terus memperkokoh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Upaya ini termasuk melalui revisi kebijakan Devisa Hasil Ekspor DHE Sumber Daya Alam SDA. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Purbaya memproyeksikan nilai tukar rupiah akan stabil pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS pada tahun 2027.
Dengan strategi ekonomi yang tepat serta kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia pada 2027 dapat tumbuh kuat di rentang 5,8 hingga 6,5 persen. Angka ini, menurut Purbaya, akan menjadi fondasi kokoh untuk mencapai pertumbuhan 8 persen dalam jangka menengah. Stabilitas ekonomi dan sektor keuangan yang terjaga baik, ditambah kepercayaan investor global, akan mendorong masuknya modal asing capital inflow yang positif. Hal ini berkontribusi pada stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Mengenai arsitektur kebijakan fiskal 2027, Purbaya menyebutkan desain yang tetap ekspansif namun kolaboratif, terarah, dan terukur, dengan defisit diproyeksikan antara 1,8 hingga 2,4 persen terhadap PDB. Untuk mendukung target ini, pendapatan negara diperkirakan mencapai 11,82 hingga 12,40 persen dari PDB, sementara belanja negara direncanakan berada pada kisaran 13,62 hingga 14,80 persen terhadap PDB.







