News  

Asas Jurnalisme Tempo: Pilar Kebenaran Sejak 1971

admin
Asas Jurnalisme Tempo: Pilar Kebenaran Sejak 1971

Dalam lanskap media yang terus berubah, prinsip-prinsip dasar jurnalisme seringkali menjadi kompas yang krusial. Salah satu contoh nyata adalah filosofi jurnalisme yang dipegang teguh oleh Tempo sejak awal berdirinya. Sebuah pernyataan yang lahir pada 6 Maret 1971 ini, hingga kini masih relevan dan menjadi panduan utama dalam menyajikan berita yang informatif dan berintegritas.

Sejak deklarasi awalnya, Tempo telah menegaskan bahwa jurnalisme yang mereka anut bukanlah jurnalisme yang memihak satu golongan tertentu. Filosofi ini menekankan bahwa kebaikan maupun keburukan bukanlah hak eksklusif satu pihak, melainkan fenomena universal yang perlu disikapi secara objektif. Ini adalah fondasi untuk memastikan pemberitaan yang adil dan seimbang, jauh dari agenda tersembunyi atau kepentingan kelompok.

Asas Jurnalisme Tempo: Pilar Kebenaran Sejak 1971
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Lebih jauh, Tempo memandang tugas pers sebagai instrumen untuk melenyapkan prasangka, bukan justru menyebarkannya. Media memiliki tanggung jawab besar untuk tidak membenihkan kebencian, melainkan menjadi jembatan komunikasi yang mendorong saling pengertian antarberbagai elemen masyarakat. Dalam era informasi yang rentan polarisasi dan disinformasi, prinsip ini menjadi semakin vital, menyerukan jurnalisme yang konstruktif dan mempersatukan.

Integritas dan independensi juga menjadi pilar utama. Jurnalisme Tempo tidak didesain untuk mencibir atau memaki, apalagi untuk menjilat atau menghamba kepada kekuatan tertentu. Ini adalah komitmen terhadap kebebasan pers yang sejati, di mana kebenaran disampaikan tanpa takut intervensi atau tekanan, baik dari pihak berkuasa maupun kelompok kepentingan. Sikap ini memastikan bahwa suara pers tetap menjadi pengawas yang kritis dan independen, menjaga marwah profesi wartawan.

Empat dekade lebih setelah deklarasi ini, prinsip-prinsip jurnalisme yang diusung Tempo tetap relevan dan menjadi pengingat penting bagi seluruh insan pers. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan disinformasi, komitmen terhadap objektivitas, penghapusan prasangka, dan independensi adalah kunci untuk menjaga kepercayaan publik serta memastikan peran pers sebagai pilar demokrasi yang kokoh. Filosofi 1971 ini bukan sekadar arsip sejarah, melainkan panduan hidup bagi jurnalisme yang bermartabat.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *