Pelemahan Rupiah: Indef Soroti Jurus Jitu Industri
faseberita.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri. Menyikapi kondisi tersebut, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengemukakan sejumlah strategi mitigasi risiko yang krusial bagi sektor industri.

Pada hari ini, kurs rupiah tercatat anjlok ke level Rp 17.659 per dolar AS. Angka ini melanjutkan tren pelemahan yang terlihat sejak pagi hari, di mana rupiah sempat melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp 17.630 dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.597.
Esther menjelaskan, depresiasi nilai tukar rupiah ini memberikan tekanan berat bagi industri manufaktur, terutama yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Dampak domino yang tak terhindarkan meliputi pembengkakan biaya produksi, lonjakan inflasi impor (imported inflation), ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga terhambatnya ekspansi usaha yang berujung pada penurunan serapan tenaga kerja.
"Kondisi ini berimbas langsung pada pasar kerja melalui pembengkakan biaya produksi, kenaikan inflasi impor, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta turunnya serapan tenaga kerja akibat terhambatnya ekspansi usaha," ujar Esther, seperti dikutip dari Antara.
Untuk menghadapi tantangan ini, Esther merekomendasikan beberapa langkah strategis:
-
Perkuat Lindung Nilai (Hedging): Rekomendasi utama yang disoroti Esther adalah penguatan penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging. Langkah ini penting untuk melindungi arus kas perusahaan dari fluktuasi kurs mata uang asing yang tidak terduga, terutama bagi industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor.
-
Diversifikasi Pemasok Lokal: Selain itu, Esther mendorong perusahaan untuk mulai melirik dan menjalin kemitraan dengan pemasok lokal sebagai alternatif bahan baku impor. Meskipun diakui memiliki tantangan tersendiri dalam pelaksanaannya, langkah ini krusial untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap gejolak kurs.
-
Efisiensi dan Pengendalian Biaya: Pelaku usaha juga disarankan untuk melakukan efisiensi dan mengendalikan biaya operasional secara ketat. Ini termasuk merasionalisasi belanja modal (capex) dan mengoptimalkan modal kerja tanpa mengorbankan kualitas produk atau layanan. "Pelaku usaha melakukan efisiensi (cost cutting) seperti merasionalisasi belanja modal (capex) dan mengoptimalkan modal kerja tanpa mengorbankan kualitas," tegasnya.
-
Manfaatkan Local Currency Settlement (LCS): Terakhir, Esther menyarankan dunia industri dan usaha untuk lebih aktif memanfaatkan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional. Penggunaan mata uang lokal dalam pembayaran perdagangan ini diharapkan dapat mengurangi dominasi dan ketergantungan terhadap dolar AS. "Semakin banyak perusahaan yang mencoba melakukan pembayaran perdagangan internasional dengan mekanisme Local Currency Settlement atau LCS untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan terhadap dolar AS," jelas Esther.
Langkah-langkah mitigasi ini diharapkan dapat membantu industri bertahan dan beradaptasi di tengah tekanan pelemahan rupiah, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan pasar kerja di Indonesia.




