faseberita.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang tak kunjung mereda kini mulai mengirimkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi global. Konflik yang terus memanas di wilayah tersebut telah mengganggu rantai pasokan minyak mentah dunia, yang secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian baru yang membuat para pelaku pasar keuangan di seluruh dunia berada dalam posisi waspada.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, pergerakan harga minyak menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Pada perdagangan Jumat (02/10/2026), minyak jenis Brent tercatat berada di level USD 102,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga tidak kalah tinggi dengan bertengger di angka USD 91,11 per barel. Angka-angka ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasokan energi global masih sangat kuat.

Ekonom dari faseberita.id, Maesaroh, menjelaskan bahwa faktor utama di balik volatilitas harga ini adalah tensi perang yang masih sangat tinggi. Hingga saat ini, arah perundingan damai di Timur Tengah belum memberikan kepastian yang nyata bagi dunia. Ketidakjelasan mengenai kapan konflik ini akan mereda membuat harga minyak terus tertekan ke level yang lebih tinggi.
Dampak dari mahalnya harga minyak ini tidak hanya berhenti pada sektor energi saja. Maesaroh memperingatkan adanya efek domino yang bisa merambat ke berbagai sektor ekonomi lainnya. Lonjakan harga minyak dunia berpotensi besar memicu kenaikan inflasi secara global. Ketika biaya energi naik, biaya produksi dan distribusi barang pun ikut membengkak, yang pada akhirnya akan menekan daya beli masyarakat.
Lebih lanjut, lonjakan inflasi ini sering kali memaksa bank sentral di berbagai negara untuk mengambil langkah kebijakan moneter yang ketat, salah satunya melalui kenaikan suku bunga acuan. Kebijakan suku bunga yang tinggi ini bertujuan untuk meredam inflasi, namun di sisi lain dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, ketidakpastian global ini menjadi tantangan serius. Aliran modal asing cenderung menjadi lebih berhati-hati dan cenderung menghindari pasar negara berkembang (emerging markets) demi mencari keamanan di aset-aset yang lebih stabil. Hal ini berpotensi menghambat masuknya aliran dana global ke Indonesia.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai dampaknya terhadap instrumen ekonomi domestik. Pertama, bagaimana pengaruhnya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) RI, terutama terkait beban subsidi energi? Kedua, sejauh mana tekanan ini akan memengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa efek? Dan terakhir, bagaimana stabilitas nilai tukar Rupiah menghadapi guncangan harga komoditas global ini? Ketiga variabel tersebut akan menjadi kunci dalam menentukan ketahanan ekonomi nasional di tengah badai ketidakpastian global.







