faseberita.id – PT Geo Dipa Energi (Persero) menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran yang jauh lebih strategis dalam peta jalan energi nasional. Perusahaan ini tidak hanya memposisikan diri sebagai Special Mission Vehicle (SMV) pemerintah, tetapi juga siap bertransformasi menjadi instrumen fiskal yang krusial guna mengakselerasi pengembangan ekonomi hijau di Indonesia.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Yudistian Yunis, menegaskan bahwa kesiapan perusahaan dalam menjalankan mandat besar tersebut didasarkan pada rekam jejak yang solid. Pengalaman panjang di sektor panas bumi, kapasitas pembangkit yang terus tumbuh, serta kekuatan teknis dan finansial menjadi fondasi utama perusahaan dalam mendukung agenda transisi energi nasional.

"Secara kesiapan, Geo Dipa sudah sangat siap untuk dipersiapkan menjadi alat fiskal bagi ekonomi hijau (fiscal tools green economy)," ujar Yudistian dalam acara Media Gathering Kementerian Keuangan yang berlangsung di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Ekspansi Kapasitas dan Keunggulan Teknis
Dari sisi infrastruktur, Geo Dipa menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Saat ini, perusahaan tengah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas sekitar 120 megawatt (MW). Tidak berhenti di situ, Geo Dipa juga tengah dalam proses pembangunan tambahan kapasitas sebesar 110 MW. Selain itu, perusahaan juga sedang menyiapkan proses pengadaan untuk proyek pengembangan baru dengan kapasitas yang serupa.
Jika seluruh proyek tersebut terealisasi, total kapasitas panas bumi yang dikelola dan sedang dikembangkan oleh Geo Dipa akan mendekati angka 400 MW. "Secara teknikal kami sudah siap. Hari ini kami mengoperasikan 120 MW, sedang membangun 110 MW, dan sedang menyiapkan pengadaan untuk tambahan 110 MW lagi," tambah Yudistian.
Kekuatan Geo Dipa tidak hanya terletak pada aset fisik, tetapi juga pada pengalaman selama 24 tahun dalam manajemen operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance/O&M) serta kegiatan eksplorasi. Pengalaman panjang ini menjadi modal vital jika pemerintah memberikan mandat yang lebih luas untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di luar sektor panas bumi.
Namun, Yudistian menekankan pentingnya kolaborasi antar-BUMN untuk mewujudkan target EBT. Untuk sektor energi seperti hidro, Geo Dipa menyarankan kerja sama dengan BUMN lain seperti PT PLN (Persero), PT Brantas Abipraya, atau BUMN karya lainnya. Dengan model kolaborasi ini, Geo Dipa dapat menjadi bagian dari ekosistem energi hijau yang terintegrasi tanpa harus membangun seluruh kapasitas sendirian.
Fondasi Finansial dan Ekosistem Terintegrasi
Selain keunggulan teknis, Geo Dipa memiliki posisi keuangan yang sangat sehat. Perusahaan telah mengantongi peringkat kredit AAA dan mencatatkan skor ESG (Environmental, Social, and Governance) sebesar 63 berdasarkan penilaian S&P Global. Angka ini menempatkan Geo Dipa dalam jajaran 25 besar di Asia dan 50 besar dunia untuk sektor utilitas.
Yudistian mengusulkan pembentukan ekosistem ekonomi hijau yang melibatkan berbagai SMV di bawah naungan Kementerian Keuangan. Dalam skema ini, Geo Dipa akan berperan sebagai penyedia energi hijau, sementara PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) mendukung pembiayaan kawasan industri hijau. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) dapat masuk melalui penyediaan penjaminan proyek, dan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mendukung infrastruktur pendukung bagi tenaga kerja.
Selain itu, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) juga dapat berperan dalam mendukung ekspor produk industri hijau ke pasar global. Ekosistem ini juga akan diperkuat oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
"Ekosistem ini bisa digunakan Kementerian Keuangan sebagai inisiator untuk menciptakan ekonomi hijau. Jika regulasinya sudah terbentuk dengan baik, pemain-pemain lain akan dengan mudah masuk ke dalam ekosistem tersebut," tutup Yudistian.







