faseberita.id – Dunia pasar modal Indonesia kembali dikejutkan oleh langkah strategis salah satu tokoh konglomerat ternama, Edwin Soeryadjaya. Tanpa banyak pemberitahuan, pendiri PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) ini diketahui melakukan aksi borong saham perusahaan miliknya sendiri dalam jumlah yang cukup signifikan. Langkah ini menarik perhatian para investor karena menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dari sang tokoh terhadap prospek masa depan emiten investasi tersebut.
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Edwin Soeryadjaya melakukan pembelian saham SRTG dalam dua tahap yang berbeda. Transaksi pertama tercatat terjadi pada 24 September 2026, di mana ia menyerap sebanyak 210.000 lembar saham dengan harga Rp1.786 per lembar. Nilai transaksi pada tahap awal ini mencapai sekitar Rp375,06 juta.

Tak berhenti di situ, keesokan harinya pada 25 September 2026, Edwin kembali menambah koleksi sahamnya. Pada tahap kedua ini, ia membeli sebanyak 150.000 lembar saham dengan harga Rp1.770 per lembar, atau setara dengan nilai Rp265,5 juta. Jika ditotal, Edwin telah mengantongi sebanyak 360.000 lembar saham baru dengan total nilai transaksi mencapai Rp640,56 juta.
Penting untuk dicatat bahwa transaksi ini dilakukan secara langsung tanpa menggunakan skema Repurchase Agreement (repo). Hal ini menegaskan bahwa tujuan utama dari pembelian tersebut adalah murni untuk kepentingan investasi jangka panjang, bukan untuk transaksi pinjaman berbasis saham.
Aksi beli ini secara otomatis meningkatkan persentase kepemilikan saham Edwin di Saratoga. Sebelumnya, ia memegang 4.877.383.290 lembar saham dengan hak suara sebesar 35,9561%. Pasca transaksi ini, kepemilikannya melonjak menjadi 4.877.743.290 lembar saham, yang setara dengan 35,9587% dari total saham perusahaan.
Edwin Soeryadjaya bukan sekadar pemegang saham biasa; ia adalah sosok kunci di balik layar Saratoga. Menjabat sebagai Dewan Komisaris sejak 22 Januari 1997, ia juga memegang peran krusial sebagai Pengawas Komite Investasi serta anggota Komite Nominasi dan Remunerasi. Rekam jejaknya di dunia bisnis sangat panjang, dimulai dari karier di Astra International sebelum akhirnya memutuskan untuk membangun imperium Saratoga.
Saat ini, pengaruh Edwin merambah ke berbagai sektor vital di Indonesia. Ia memegang posisi strategis di berbagai perusahaan besar, mulai dari sektor energi melalui PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, infrastruktur telekomunikasi di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, hingga sektor pertambangan emas dan tembaga di PT Merdeka Copper Gold Tbk. Langkahnya membeli saham SRTG di tengah dinamika pasar dianggap sebagai sinyal positif bagi para pemegang saham lainnya.







