faseberita.id – Kabar baik bagi para pengguna setia layanan Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek. PT KAI Commuter tengah menyiapkan langkah strategis untuk menambah jumlah armada melalui skema impor kereta bekas dari Jepang. Rencananya, armada tambahan ini ditargetkan mulai tiba di tanah air secara bertahap pada akhir tahun 2026 mendatang.
Langkah pengadaan ini diambil sebagai respons cepat atas lonjakan jumlah penumpang yang terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data terbaru, pada semester pertama tahun 2026, jumlah pengguna KRL mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 11,3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata penumpang harian mencapai 1,1 juta orang, bahkan pada jam-jam sibuk angka tersebut bisa melonjak hingga menyentuh 1,3 juta penumpang.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa proses ini sedang dalam tahap persiapan pengadaan barang modal tidak baru atau BMTB. Ia menegaskan bahwa target realisasi kedatangan armada tersebut dipatok mulai akhir 2026. Namun, proses ini tidaklah instan karena memerlukan koordinasi intensif antarinstansi pemerintah.
"Kami sedang melakukan koordinasi dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan tentunya dengan Kementerian Perhubungan sebagai kementerian teknis terkait," ujar Karina dalam keterangannya.
Selain masalah lonjakan penumpang, faktor usia armada menjadi alasan krusial di balik rencana impor ini. KAI mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 92 rangkaian kereta (trainset) yang usianya telah mencapai 40 tahun. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi operasional jangka panjang, di mana diprediksi hingga tahun 2031 akan ada sekitar 87 trainset lainnya yang sudah harus diganti karena faktor usia.
Sebagai solusi jangka pendek, KAI telah mengusulkan pengadaan 23 unit trainset KRL bekas dari Jepang. Formasi rangkaian yang diusulkan terdiri dari tujuh rangkaian dengan 12 kereta (SF12) dan 16 rangkaian dengan 8 kereta (SF8). Penentuan jumlah gerbong ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar sesuai dengan panjang peron dan infrastruktur stasiun yang ada di jalur Jabodetabek.
Meski rencana ini telah mendapat lampu hijau dari Komisi VI DPR RI dalam rapat pada September 2026, proses di tingkat kementerian masih terus berjalan. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyebutkan bahwa hingga saat ini pihaknya masih menunggu pengajuan resmi dari pihak KAI untuk membahas detail teknis lebih lanjut.
Perlu digarisbawahi bahwa impor KRL bekas ini diposisikan sebagai solusi jembatan atau langkah sementara. Tujuan utamanya adalah untuk menutup celah kebutuhan kapasitas angkut sambil menunggu industri perkeretaapian dalam negeri mampu meningkatkan kapasitas produksi secara mandiri di masa depan. Dengan adanya tambahan armada ini, diharapkan kepadatan penumpang di dalam gerbong dapat berkurang dan kenyamanan perjalanan meningkat.







