faseberita.id – Kisah hidup Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat bagaikan dongeng yang berujung tragis. Dikenal sebagai penguasa paling kaya di seantero Sumatra, kemewahan tak terbatas yang ia nikmati bersama keluarganya mendadak sirna dalam gejolak Revolusi Sosial Sumatra Timur tahun 1946. Sebuah narasi tentang kekayaan melimpah yang berujung pada kehancuran dan penderitaan.
Kemegahan Kesultanan Langkat bukanlah tanpa alasan. Sumber kekayaan yang melimpah ruah, terutama setelah penemuan ladang minyak bumi di Telaga Said, Pangkalan Brandan, pada masa kakek Sultan Mahmud, Sultan Musa, menjadi fondasi kemakmuran mereka. Sejarah mencatat, kekayaan ini semakin berlipat ganda ketika perusahaan minyak Belanda, Royal Dutch Petroleum, datang untuk mengeksplorasi dan mengembangkan Pangkalan Brandan menjadi pusat pengolahan minyak terbesar di Sumatra.

Dari aktivitas pertambangan tersebut, pundi-pundi Kesultanan Langkat terus mengalir deras. Sultan Langkat kala itu bisa mengantongi sekitar US$3.000 setiap tahunnya, jumlah yang fantastis di zamannya. Tak hanya minyak, perkebunan tembakau dan hasil hutan juga turut menyumbang pemasukan besar. Tak heran jika keluarga Sultan dan para bangsawan hidup dalam gelimang kemewahan yang tak terbayangkan.
Pada masa Sultan Aziz, pendahulu Sultan Mahmud, istana megah dibangun dan bahkan sebuah kapal tanker pun dibeli. Gaya hidup keluarga kerajaan semakin modern, mengadopsi tren Eropa mulai dari busana, budaya, hingga hidangan. Puncak kemewahan ini terlihat jelas pada era Sultan Mahmud, yang disebut-sebut memiliki 13 mobil limosin pribadi dan dua kapal pesiar mewah. Sejarawan Anthony Reid bahkan menyebut Sultan Mahmud sebagai sultan terkaya di seluruh Sumatra Timur.
Namun, semua kemewahan itu runtuh dalam sekejap. Pada tahun 1946, badai Revolusi Sosial Sumatra Timur menerjang. Istana Darussalam, simbol kemegahan Kesultanan Langkat, menjadi sasaran amuk massa. Bangunan megah itu porak-poranda, harta benda dijarah habis-habisan, dan kemewahan yang selama ini dinikmati lenyap tak bersisa.
Lebih pilu lagi, tak hanya harta benda yang menjadi korban. Sultan Mahmud dan sejumlah anggota keluarganya ditangkap, mengalami kekerasan fisik dan mental di tengah gejolak sosial yang mencekam. Kisah Sultan Langkat ini menjadi pengingat pahit bahwa kekayaan dan kekuasaan bisa berakhir tragis dalam sekejap mata, meninggalkan jejak sejarah yang penuh ironi.







