News  

Bocor Metana Migas Indonesia Rugi Besar

admin
Bocor Metana Migas Indonesia Rugi Besar

faseberita.id – Energi Academy Indonesia Ecadin mendesak pemerintah segera merumuskan regulasi ketat untuk menekan emisi metana di sektor minyak dan gas. Data International Energy Agency mengungkap fakta mengejutkan bahwa sektor energi bertanggung jawab atas 41 persen total emisi metana nasional sebuah angka yang tak bisa diabaikan.

Chief Operating Officer Ecadin Candra Sutama mengungkapkan meski sejumlah perusahaan migas Indonesia telah bergabung dalam Oil & Gas Methane Partnership OGMP sebuah kerangka kerja global yang diinisiasi United National Environment Programme UNEP untuk mengukur dan melaporkan emisi metana komitmen tersebut masih bersifat sukarela. Hal ini membuat penegakan dan implementasinya di lapangan menjadi sulit.

Bocor Metana Migas Indonesia Rugi Besar
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

"Langkah selanjutnya yang kami dukung adalah bagaimana pengurangan metana khususnya di sektor migas ini dapat terintegrasi dalam regulasi atau kebijakan negara kita" tegas Candra dalam sebuah taklimat media di Jakarta pada Senin 8 Juni 2026.

Menurut Candra Norwegia adalah teladan sukses yang patut dicontoh. Negara Nordik tersebut telah memiliki regulasi metana sejak tahun 1970 dan terus diperbarui setiap tahun. Pemerintah Norwegia bahkan menerapkan pungutan pajak khusus bagi emisi metana yang dihasilkan sektor migas mereka. Hasilnya emisi metana dari sektor migas di Norwegia menjadi yang terkecil di dunia.

Lebih dari sekadar melindungi bumi upaya menekan emisi metana juga menawarkan potensi keuntungan finansial signifikan bagi pelaku industri. Candra menjelaskan investasi pada teknologi pencegah kebocoran bukan hanya melestarikan lingkungan tetapi juga berbalik menjadi keuntungan ekonomis.

"Meskipun perusahaan migas mengeluarkan biaya untuk meningkatkan teknologi agar tidak terjadi kebocoran pada akhirnya uang yang dibayarkan untuk peningkatan teknologi tersebut akan terbayar karena tidak ada kebocoran menghasilkan devisa sehingga biaya bersihnya menjadi nol atau bahkan positif" pungkasnya. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan dan keuntungan ekonomi bisa berjalan seiring.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *