News  

Rupiah Anjlok Impor Tercekik PHK Mengintai

admin
Rupiah Anjlok Impor Tercekik PHK Mengintai

faseberita.id – Pelemahan nilai tukar rupiah kini menghantam keras sektor impor Indonesia. Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia GINSI mengungkapkan para pelaku usaha mulai mengambil langkah drastis demi bertahan di tengah kurs dolar AS yang meroket hingga menyentuh Rp 18.000. Salah satu kebijakan pahit yang ditempuh adalah memangkas jam kerja karyawan.

Ketua Umum GINSI Subandi menyatakan beberapa industri yang menjadi anggotanya sudah mengurangi ritme kerja dari tiga shift menjadi dua shift. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pengusaha, mengingat rupiah kini makin mendekati level psikologis Rp 19.000 per dolar AS. Angka tersebut dianggap melampaui ambang batas toleransi operasional dunia usaha.

Rupiah Anjlok Impor Tercekik PHK Mengintai
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Kecemasan ini beralasan. Mata uang Garuda yang pada awal tahun masih bertengger di kisaran Rp 16.000 per dolar AS, kini terperosok tajam. Hingga penutupan perdagangan Jumat 5 Mei 2026, rupiah mendekati rekor terendah di angka Rp 18.030 per dolar AS. Subandi menjelaskan, batas aman yang ideal bagi importir sebetulnya berada di kisaran Rp 15.500 hingga Rp 15.800 per dolar AS, level yang terakhir terlihat pada 2024.

Para importir telah membuat kalkulasi bahwa batas psikologis yang mampu mereka toleransi hanya sampai Rp 19.000 per dolar AS. "Jika menyentuh angka 19.000 ke atas, para pelaku usaha menyampaikan ke kami bahwa mereka akan kewalahan untuk bisa melanjutkan produksi atau mendatangkan barang dari luar negeri," tegas Subandi. Kenaikan kurs hingga Rp 19.000 berarti beban biaya modal impor melonjak sekitar 20 persen dari batas aman yang diharapkan pengusaha.

Sebagai gambaran, dengan kurs rupiah dua tahun lalu, modal Rp 100 miliar memungkinkan pengusaha mendapatkan 1.000 unit barang. Namun, jika kurs rupiah terperosok ke level Rp 19.000, pengusaha harus merogoh kocek Rp 120 miliar untuk volume barang yang sama. Selain belanja modal, pajak yang harus dibayar juga bertambah karena dipungut berdasarkan transaksi invoice. Belum lagi kenaikan ongkos logistik hingga biaya pengiriman lain yang ikut melambung.

Akibatnya, harga pokok penjualan produk impor ikut meningkat signifikan. Dalam situasi sulit ini, Subandi menyebut pengusaha tak punya pilihan selain menaikkan harga jual produk. Pilihan ini menjadi dilema besar di tengah daya beli masyarakat yang juga belum sepenuhnya kuat.

Ketika impor dan produksi terpaksa dikurangi, efisiensi menjadi jalan satu-satunya yang akan ditempuh. Langkah-langkah ekstrem mulai dari pengurangan jam kerja karyawan, perumahan sementara, hingga Pemutusan Hubungan Kerja PHK pun mengintai sebagai konsekuensi terburuk.

Di sisi lain, Bank Indonesia dan pemerintah terus berupaya keras menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan erat demi menopang mata uang domestik dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Penguatan koordinasi fiskal dan moneter itu terus kami lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ucap Perry dalam konferensi pers di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Jakarta Sabtu 6 Juni 2026.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *