News  

Phintraco Jadi LP 5 Saham BEI, Siap Dorong Likuiditas Pasar

admin

faseberita.id – Phintraco Sekuritas, melalui Direktur Utamanya Ferawati, menyatakan kesiapannya untuk berperan sebagai penyedia likuiditas (Liquidity Provider/LP) bagi lima saham pilihan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif BEI untuk meningkatkan aktivitas perdagangan dan efisiensi pasar, terutama pada saham-saham dengan likuiditas rendah.

Konsep Liquidity Provider sendiri merujuk pada lembaga keuangan atau anggota bursa yang ditunjuk untuk bertindak sebagai market maker, yaitu pihak yang secara aktif menyediakan penawaran beli dan jual. Peran ini krusial untuk menyuntikkan likuiditas pada saham-saham yang kurang aktif, memperkecil spread (selisih harga beli dan jual), serta menjamin kelancaran dan efisiensi transaksi di pasar modal. Inisiatif ini diharapkan dapat mengatasi masalah likuiditas rendah pada sejumlah emiten.

Phintraco Jadi LP 5 Saham BEI, Siap Dorong Likuiditas Pasar
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Ferawati menjelaskan, pada fase awal implementasi, Phintraco Sekuritas akan fokus menyediakan kuotasi beli dan jual untuk lima saham. Saham-saham tersebut adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).

Persiapan yang dilakukan Phintraco tidak main-main. "Kami memastikan pemenuhan seluruh ketentuan yang telah ditetapkan oleh BEI," tegas Ferawati dalam keterangan tertulisnya. Secara internal, koordinasi lintas divisi dan penguatan sistem pengendalian internal serta manajemen risiko menjadi prioritas utama. Hal ini dilakukan "agar pelaksanaan fungsi LP berjalan optimal dan sesuai dengan ketentuan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," tambahnya.

Lebih lanjut, Ferawati memandang peran LP bukan sekadar kewajiban kuotasi, melainkan bagian integral dari strategi market deepening atau pendalaman pasar. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas likuiditas dan efisiensi harga di pasar modal Indonesia. Pemilihan kelima emiten tersebut, lanjut Ferawati, dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan yang solid, kebutuhan akan peningkatan likuiditas, serta potensi menarik minat investor. "Kami melihat emiten-emiten ini memiliki prospek yang baik, namun masih terdapat ruang untuk meningkatkan aktivitas perdagangan," jelasnya. Ia juga menekankan bahwa pilihan ini selaras dengan visi pengembangan pasar yang diusung BEI. "Kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta kepatuhan dalam menjalankan peran ini," pungkasnya.

Dari sisi regulator, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyambut baik partisipasi anggota bursa sebagai LP. Menurutnya, hal ini merupakan elemen vital dalam upaya meningkatkan likuiditas dan kualitas pembentukan harga saham. "Kami berharap langkah ini dapat mendorong peningkatan likuiditas, khususnya pada saham-saham yang memiliki potensi untuk berkembang lebih optimal," kata Irvan dalam pernyataan tertulisnya. Ia menambahkan, keterlibatan aktif anggota bursa adalah kunci sukses program ini. Oleh karena itu, BEI secara konsisten mendorong partisipasi yang lebih luas dari seluruh pelaku pasar demi optimalisasi inisiatif ini. Irvan optimis bahwa langkah ini akan menciptakan ekosistem perdagangan yang semakin likuid, kredibel, dan berdaya saing, sekaligus menjadi "bukti nyata komitmen BEI dalam meningkatkan pendalaman pasar."

Menanggapi kebijakan ini, Alfatih, Dewan Pengawas Perkumpulan Analis Efek Indonesia, mengungkapkan bahwa praktik liquidity provider secara informal sebenarnya sudah ada untuk saham-saham tertentu. Namun, informalitas tersebut kerap menghambat pengawasan maksimal, berpotensi merugikan investor. Meski demikian, Alfatih menyambut positif kebijakan resmi ini. Ia menilai, inisiatif baru ini akan meningkatkan daya tarik bagi investor institusi yang mensyaratkan saham likuid di samping fundamental yang kuat. Tak hanya itu, investor ritel pun diperkirakan akan turut diuntungkan.

Alfatih menekankan, kunci keberhasilan kebijakan ini terletak pada kerangka aturan dan pengawasan yang ketat. "Jangan sampai ada masa likuid, lalu tiba-tiba menjadi tidak likuid, sehingga terkesan menjebak," pesannya. Di sisi lain, Alfatih juga melihat suntikan likuiditas ini berpotensi memperluas pilihan saham bagi investor asing, sehingga tidak hanya terpaku pada saham-saham big cap atau yang sudah sangat likuid. "Likuiditas dapat menjadi faktor positif bagi kenaikan indeks," tutupnya.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *