News  

Pelemahan Rupiah Berlanjut, Industri Manufaktur Kian Terhimpit

admin
Pelemahan Rupiah Berlanjut, Industri Manufaktur Kian Terhimpit

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih menunjukkan tren pelemahan yang signifikan, bergerak di kisaran Rp 17.070 per dolar Amerika Serikat pada Kamis, 9 April 2026. Situasi ini memicu kekhawatiran serius dari kalangan pengusaha, terutama sektor manufaktur, yang merasakan dampak negatifnya secara langsung dan mendalam.

Berdasarkan data dari Trading Economics, rupiah tercatat pada level Rp 17.073 per dolar AS pada pukul 10.00 WIB. Mata uang Garuda ini telah konsisten berada di atas level Rp 17.000 sejak awal pekan, bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.100 per dolar AS, menandakan tekanan yang persisten.

Pelemahan Rupiah Berlanjut, Industri Manufaktur Kian Terhimpit
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menegaskan bahwa depresiasi rupiah ini menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi pelaku usaha. "Kami sangat prihatin dengan pelemahan yang terus-menerus terjadi," ujarnya kepada Tempo, seperti dikutip faseberita.id pada Kamis (9/4/2026).

Menurut Shinta, pelemahan rupiah secara langsung memicu kenaikan inflasi. Hal ini terjadi akibat lonjakan biaya produksi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai cost push inflation. Dampak ini paling terasa di industri manufaktur, sektor yang sangat bergantung pada komponen produksi yang diimpor. Ketika nilai dolar AS menguat, biaya untuk mengimpor bahan baku otomatis melonjak drastis.

Survei yang dilakukan Apindo mengungkap bahwa perusahaan manufaktur memiliki kebutuhan bahan baku impor antara 35 hingga 70 persen. Ironisnya, hanya kurang dari 30 persen dari komponen impor tersebut yang dapat diproduksi atau disubstitusi di dalam negeri. Kondisi ini membuat industri manufaktur sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar, di mana peningkatan beban inflasi terhadap biaya produksi akan semakin menekan sektor ini.

Selain itu, dampak lain dari pelemahan rupiah adalah kesulitan perusahaan dalam menjaga likuiditas atau arus kas yang memadai untuk mempertahankan volume produksi yang ada. Profitabilitas perusahaan juga terancam tergerus, dengan margin keuntungan yang menipis demi menahan kenaikan harga jual agar tidak terlalu membebani pasar. Pada akhirnya, kondisi ini berpotensi menekan permintaan secara agregat.

Sebagai Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Shinta Kamdani berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah intervensi, baik fiskal maupun moneter, untuk menciptakan stabilitas nilai tukar. Ia juga mendesak agar ada upaya mendorong penguatan rupiah menuju target APBN di level Rp 16.500 per dolar AS. Langkah proaktif ini dianggap krusial untuk mencegah dampak-dampak negatif tersebut menjadi beban yang tak tertanggulangi bagi dunia usaha dan perekonomian nasional.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *