Yogyakarta, faseberita.id – Menyikapi lonjakan arus balik Lebaran yang masih tinggi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta (Dinkes) bersama sejumlah instansi terkait memperketat pengawasan terhadap para sopir bus di Terminal Induk Giwangan. Pemeriksaan kesehatan fisik, mental, hingga tes urine secara acak digencarkan hingga akhir pekan ini untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Langkah ini diambil menyusul perkiraan puncak arus balik yang masih akan terjadi pada Sabtu dan Minggu, 28-29 Maret 2026. Fokus pemeriksaan menyasar pengemudi bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), hingga Trans Jogja.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, pada Jumat (27/3/2026) menegaskan bahwa pemeriksaan acak ini krusial. "Kami akan terus melakukan pemeriksaan ini demi memastikan keselamatan dan kenyamanan penumpang," ujarnya. Aan menekankan bahwa faktor keselamatan adalah prioritas utama di tengah kepadatan arus balik. "Jika pengemudi tidak dalam kondisi prima atau kendaraan tidak laik jalan, risiko kecelakaan di perjalanan akan meningkat," tambahnya.
Tim medis yang diterjunkan dalam pemeriksaan ini mengklasifikasikan hasil menjadi tiga kategori: laik mengemudi, laik dengan catatan, dan tidak laik mengemudi. Prosedur pemeriksaan meliputi pengecekan fisik, wawancara mendalam, dan uji laboratorium di tempat. Aspek kesehatan yang diperiksa meliputi tekanan darah, kadar gula darah, serta deteksi narkoba dan alkohol. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinkes, Polresta Yogyakarta, Badan Narkotika Nasional (BNN), TNI, dan Dinas Perhubungan.
Dari 50 sampel awal pengemudi yang menjalani pemeriksaan acak, petugas masih menemukan beberapa catatan. Sejumlah sopir teridentifikasi memiliki tekanan darah tinggi dan disarankan untuk segera menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan. Aan juga mengimbau perusahaan otobus (PO) untuk menyiapkan sopir cadangan dan memastikan pengemudi mendapatkan istirahat yang cukup, mengingat kondisi fisik prima pengemudi adalah kunci keselamatan penumpang.
Senada, Kepala UPT Terminal Giwangan Yogyakarta, Sigit Saryanto, menyoroti pentingnya tes urine bagi para pengemudi. "Tes urine adalah langkah vital untuk memastikan sopir dalam kondisi benar-benar prima dan bebas dari pengaruh zat terlarang," ungkap Sigit. Hasil tes urine dari 50 sopir menunjukkan 29 orang dinyatakan laik, 20 orang laik dengan catatan, dan satu pengemudi dinyatakan tidak laik. Sopir yang tidak laik ini langsung dilarang melanjutkan perjalanan dan wajib digantikan oleh sopir cadangan. Tes urine ini krusial untuk mendeteksi zat-zat yang berpotensi mengganggu konsentrasi atau menyebabkan efek samping seperti kantuk, yang sangat berbahaya saat berkendara.
Pengetatan pemeriksaan ini sangat beralasan, mengingat data pergerakan penumpang di Terminal Giwangan menunjukkan angka yang masif selama periode arus balik. Pada 24 Maret, tercatat 17.640 penumpang berangkat, dan melonjak drastis menjadi 26.413 penumpang pada 25 Maret. Angka ini jauh melampaui rata-rata harian normal yang berkisar 10 hingga 12 ribu penumpang. Bahkan, seluruh tiket bus PO tujuan Jakarta, Denpasar, Sumatera, hingga Bengkulu dilaporkan telah ludes terjual hingga 29 Maret.
Selain melayani bus reguler, Terminal Giwangan juga menjadi pusat keberangkatan program mudik gratis, termasuk 32 bus dari Pemprov DKI Jakarta yang pada Kamis lalu mengangkut 1.415 penumpang menuju terminal-terminal besar seperti Pulo Gebang dan Pulo Gadung.
Sigit Saryanto menambahkan, "Kami memperkirakan kepadatan arus balik masih akan sangat tinggi pada Sabtu dan Minggu besok, sehingga pengawasan akan terus diintensifkan."







