Harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak signifikan, bahkan diprediksi bisa menembus angka US$100 per barel pada pekan ini. Proyeksi ini datang dari Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, yang juga memperkirakan harga minyak mentah jenis Brent dapat mencapai US$150 per barel. Lonjakan ini, menurut Ibrahim, dipicu oleh ketegangan geopolitik yang berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sehingga memangkas produksi minyak dari negara-negara Timur Tengah.
Dalam keterangannya pada Minggu lalu, Ibrahim menjelaskan bahwa meskipun Amerika Serikat tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran untuk menormalkan kembali aliran minyak mentah global, dampak dari penutupan selat tersebut sudah terasa. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu gelombang inflasi, khususnya pada sektor logistik dan transportasi yang sangat bergantung pada harga bahan bakar.

Tidak hanya minyak, kenaikan harga komoditas energi ini juga diperkirakan akan berdampak pada pasar emas dunia. Ibrahim memproyeksikan harga emas global bisa meroket hingga US$5.395 per troy ounce pada pekan depan. Senada, harga logam mulia di pasar domestik diprediksi mencapai Rp3.150.000 per gram. Namun, Ibrahim juga memberikan skenario support jika terjadi penurunan, dengan harga emas dunia di level US$4.959 dan logam mulia di kisaran Rp2.900.000 per gram.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi gejolak harga minyak ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan telah menghitung potensi dampak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
"Kami sudah exercise kalau harganya US$92 dolar selama setahun rata-rata, kan APBN setahun, setahun maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Jumat lalu. Angka ini melebihi batas defisit APBN yang idealnya di bawah 3 persen.
Namun, Purbaya menegaskan bahwa pelebaran defisit tersebut tidak akan terjadi jika pemerintah mengambil langkah antisipatif yang tepat. Bendahara negara itu menekankan bahwa pemerintah memiliki opsi untuk melakukan penghematan pada pos-pos belanja yang dianggap tidak efisien.
Indonesia, menurut Purbaya, memiliki pengalaman menghadapi situasi serupa di masa lalu. "Indonesia pernah melewati keadaan di mana harga minyak dunia menembus US$150 per barel," ujarnya. Meski kondisi tersebut sempat memperlambat laju ekonomi, Purbaya menambahkan bahwa hal itu tidak sampai menyebabkan krisis yang parah. Pernyataan ini memberikan sinyal optimisme bahwa dengan strategi yang tepat, Indonesia mampu melewati tantangan kenaikan harga minyak global.







