Sektor perbankan Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan positif. Kredit perbankan tercatat melonjak signifikan sebesar 9,96 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan momentum dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 9,69 persen YoY, mengindikasikan pemulihan ekonomi yang kian solid.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis, 19 Februari 2026, menjelaskan bahwa pertumbuhan positif ini didorong oleh beberapa faktor kunci. "Perkembangan positif kredit ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia, serta realisasi program prioritas pemerintah," ujar Perry.

Perry menambahkan, prospek pertumbuhan kredit ke depan dipandang masih cukup kuat, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan memiliki potensi besar untuk ditingkatkan, khususnya melalui optimalisasi fasilitas pinjaman yang belum ditarik atau undisbursed loan. Tercatat, undisbursed loan pada Januari 2026 mencapai angka fantastis Rp 2.506,47 triliun, setara dengan 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Sementara itu, kapasitas pembiayaan bank dari sisi penawaran tetap memadai. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang solid di angka 27,54 persen, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 13,48 persen YoY pada periode yang sama.
Secara rinci, Perry memaparkan bahwa pertumbuhan kredit pada Januari 2026 ditopang oleh kinerja impresif kredit investasi yang melesat 22,38 persen YoY. Disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,58 persen YoY, dan kredit modal kerja yang menguat 4,13 persen YoY. "Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 akan berada dalam kisaran 8-12 persen," pungkasnya.
Namun, pandangan yang sedikit berbeda disampaikan oleh Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Hery Gunardi. Ia memproyeksikan pertumbuhan kredit di tahun 2026 masih akan bergerak di fase single digit, atau di bawah 10 persen.
Menurut Hery, proyeksi ini didasari oleh permintaan kredit yang diperkirakan belum akan menguat secara signifikan. Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, dan ekspansi dunia usaha masih cenderung selektif. "Artinya, kita memasuki fase normalisasi pertumbuhan kredit, bukan krisis tetapi juga bukan ekspansif secara agresif," jelas Hery dalam webinar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertajuk "Economic Outlook 2026" yang diselenggarakan secara daring pada Kamis, 19 Februari 2026.







