Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan sore ini. Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, mata uang Garuda anjlok 42 poin, mencapai level Rp 16.828 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 16.786.
Ibrahim memprediksi, untuk perdagangan esok hari, rupiah akan bergerak fluktuatif namun diperkirakan tetap ditutup melemah. Rentang pergerakannya diperkirakan antara Rp 16.820 hingga Rp 16.850.

Pelemahan rupiah ini, lanjut Ibrahim, tidak lepas dari sejumlah faktor, baik domestik maupun global. Dari sisi internal, membengkaknya belanja negara menjadi salah satu pemicu utama. Selain itu, besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah yang harus dipenuhi, di tengah penerimaan negara yang belum sepenuhnya stabil, turut menambah tekanan.
Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menunjukkan, belanja negara ditetapkan sebesar Rp 3.842,7 triliun. Angka ini melonjak signifikan, yakni Rp 391,3 triliun, dibandingkan realisasi belanja tahun 2025 yang mencapai Rp 3.451,4 triliun.
Ibrahim merinci, belanja tersebut terbagi atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 3.149,7 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp 693 triliun. Yang menjadi sorotan adalah porsi terbesar dari total belanja pemerintah pusat, yaitu sekitar 19 persen, dialokasikan untuk pembayaran bunga utang. "Angka ini belum termasuk cicilan pokok utang pemerintah," tegas Ibrahim.
Alokasi anggaran lainnya juga cukup besar, seperti untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap 8,51 persen, Kementerian Pertahanan dan TNI sebesar 5,94 persen, serta Polri 4,63 persen.
Di sisi penerimaan, Ibrahim menilai upaya pemerintah untuk mengejar target penerimaan negara tidaklah mudah. Pemerintah mematok defisit anggaran sebesar Rp 689,14 triliun, atau setara 2,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kekhawatiran juga muncul terkait rasio pembayaran pokok dan bunga utang terhadap penerimaan negara, atau Debt Service Ratio (DSR). "Rasio ini diperkirakan menembus 40 persen, jauh di atas ambang batas aman internasional yang berkisar 30 persen," jelasnya.
Selain faktor domestik, dinamika geopolitik global juga turut menyumbang tekanan terhadap rupiah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlanjut, menciptakan ketidakpastian yang berdampak pada stabilitas politik dan perdagangan di kawasan Timur Tengah.







