Purbaya: Ekonomi Indonesia Melaju Pesat di Akhir 2025, Fondasi Kuat
JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kabar gembira terkait performa ekonomi Indonesia. Ia menyatakan bahwa kinerja ekonomi pada kuartal keempat tahun 2025 menunjukkan akselerasi yang sangat signifikan, menjadi landasan kokoh bagi pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan di masa depan.

"Meski dihadapkan pada beragam tantangan, kinerja kuartal IV berhasil terakselerasi secara signifikan dan menjadi momentum krusial untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi," ujar Purbaya dalam keterangan resminya, yang dikutip pada Minggu, 8 Februari 2026, oleh faseberita.id.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengkonfirmasi optimisme tersebut, mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal terakhir 2025. Angka ini turut mengerek pertumbuhan kumulatif sepanjang tahun 2025 menjadi 5,11 persen.
Menurut Purbaya, akselerasi ini tak lepas dari sejumlah faktor pendorong utama. Dari sisi permintaan, konsumsi domestik yang solid, peningkatan investasi, optimalisasi belanja pemerintah, dan ekspor yang relatif stabil menjadi penopang kuat. Tak hanya itu, dukungan penempatan kas negara di perbankan komersial juga turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan likuiditas.
Di sektor produksi, Purbaya menyoroti peran vital dari sektor-sektor bernilai tambah tinggi serta aktivitas yang mendukung mobilitas masyarakat sebagai sumber utama pertumbuhan. Ia juga menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memegang peranan strategis dalam memastikan kesinambungan laju ekonomi. Sinergi antara kebijakan moneter dan sektor keuangan, lanjutnya, semakin memperkuat peran APBN, menciptakan pertumbuhan yang tak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan dengan stabilitas makrofiskal yang terjaga.
Beralih ke sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga, yang merupakan tulang punggung perekonomian, mencatat pertumbuhan impresif sebesar 5,11 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025. Angka kumulatif sepanjang tahun pun mencapai 4,98 persen. Purbaya menggarisbawahi bahwa capaian ini adalah cerminan dari daya beli masyarakat yang tetap terjaga, didukung oleh peningkatan mobilitas dan keberhasilan dalam mengendalikan inflasi.
Indikator lain yang menguatkan tren positif ini adalah peningkatan Indeks Penjualan Riil dan volume transaksi daring. Pemerintah sendiri tidak tinggal diam, dengan gencar menyalurkan berbagai insentif dan stimulus. Program seperti bantuan sosial, Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS), dan program magang menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.
Momen perayaan Natal dan Tahun Baru, ditambah kebijakan diskon di sektor transportasi, turut memberikan dorongan signifikan terhadap mobilitas masyarakat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi sektor restoran dan hotel yang mencapai 6,38 persen sepanjang 2025, serta sektor transportasi dan komunikasi yang melonjak 6,32 persen. Purbaya juga menegaskan bahwa penguatan konsumsi rumah tangga ini tak lepas dari perbaikan kondisi ekonomi dan pasar ketenagakerjaan yang dinilai semakin kondusif.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga menunjukkan kinerja positif, tumbuh 4,55 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025, dengan capaian 2,5 persen sepanjang tahun. Belanja negara, menurut Purbaya, berperan vital sebagai ‘penyangga’ atau shock absorber yang tidak hanya menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga memastikan agenda-agenda prioritas pemerintah berjalan sesuai rencana.
Belanja negara, imbuhnya, memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas, merangsang aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat. Tercatat, realisasi belanja untuk program-program prioritas mencapai Rp 805,4 triliun, fokus pada penguatan daya beli, stabilisasi harga, dan peningkatan produktivitas. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan stimulus tambahan sebesar Rp 110,7 triliun yang ditujukan langsung untuk rumah tangga dan dunia usaha.







