faseberita.id – Dinamika politik di Amerika Serikat tampaknya membawa dampak buruk bagi imperium bisnis milik Elon Musk. Dua pilar utama kekayaannya, yakni Tesla dan SpaceX, dilaporkan mengalami penurunan nilai pasar yang sangat drastis, mencapai angka US$ 420 miliar. Fenomena ini terjadi di tengah gejolak hasil pemilihan paruh waktu di Negeri Paman Sam yang mengubah peta kekuatan politik di sana.
Meskipun Musk masih memegang takhta sebagai orang terkaya di dunia, angka kekayaan bersihnya tidak lagi setinggi sebelumnya. Berdasarkan laporan dari CNBC International, total aset Musk kini menyusut menjadi US$ 800 miliar atau setara dengan Rp14.475 triliun. Jika menilik ke belakang, angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan saat SpaceX melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada Juni lalu, di mana kekayaannya sempat menyentuh angka fantastis US$ 1 triliun atau sekitar Rp18.000 triliun.

Anjloknya nilai kekayaan ini merupakan dampak langsung dari merosotnya harga saham kedua perusahaan tersebut di bursa. Saham SpaceX tercatat merosot hingga 9 persen, sementara Tesla mengalami tekanan yang lebih berat dengan penurunan sebesar 11 persen. Tren negatif ini tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan gelombang aksi jual besar-besaran pada saham-saham sektor teknologi yang tengah melanda pasar modal global.
Faktor politik diduga menjadi pemicu utama ketidakpastian ini. Musk diketahui merupakan salah satu donatur terbesar bagi kandidat dari Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu kali ini. Financial Times mengungkapkan bahwa kontribusi finansial Musk mencapai lebih dari US$ 470 juta, dan angka tersebut terus meningkat seiring berjalannya kampanye. Namun, strategi politik ini justru berujung pahit karena mayoritas kandidat yang didukung oleh Musk justru mengalami kekalahan.
Partai Demokrat berhasil mengamankan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Hal ini menjadi sinyal bahaya bagi Musk, terutama karena kemenangan Demokrat mencakup wilayah strategis di Texas, tempat markas besar Tesla dan SpaceX berada. Kemenangan ini diprediksi akan menghadirkan tantangan regulasi yang lebih berat bagi operasional perusahaan Musk di masa depan.
Salah satu isu sensitif yang diangkat oleh kubu Demokrat adalah mengenai pengembangan pusat data (data center). Gubernur terpilih dari Partai Demokrat, Gina Hinojosa, menjadikan isu ini sebagai agenda utama kampanye. Ia bahkan menyerukan adanya moratorium atau penundaan pembangunan pusat data hingga aturan mengenai penggunaan air, biaya listrik, kendali lokal, serta skema insentif disahkan secara resmi.
Para analis dari Deutsche Bank memperingatkan bahwa SpaceX kemungkinan besar akan menghadapi hambatan tambahan dalam kondisi politik saat ini. Kapasitas komputasi SpaceX di Texas berisiko mengalami penundaan pengembangan. Selain itu, perusahaan kemungkinan harus menyiapkan tambahan belanja modal yang besar demi memenuhi standar regulasi baru yang jauh lebih ketat terkait pengelolaan pusat data di wilayah tersebut.







