faseberita.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memberikan angin segar bagi para investor yang menantikan pembagian keuntungan perusahaan. Emiten yang bergerak di sektor energi panas bumi ini mulai memberikan bocoran mengenai potensi dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dalam waktu dekat.
Meski demikian, manajemen menekankan bahwa penentuan besaran dividen tidak bisa diputuskan secara sepihak oleh perusahaan. Sebagai bagian dari grup besar, keputusan mengenai pembagian laba ini harus melewati mekanisme persetujuan yang berlapis, mulai dari tingkat manajemen hingga ke pemegang saham pengendali di level holding.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menjelaskan bahwa berdasarkan aturan dasar perusahaan, kebijakan dividen PGEO sebenarnya berada di kisaran 50 persen. Namun, realisasi angka pastinya akan sangat bergantung pada arahan dari para pemegang saham utama.
"Kebijakan dividen kami mengacu pada anggaran dasar yang menetapkan angka sekitar 50 persen. Namun, perlu dipahami bahwa keputusan ini tidak hanya diambil di level PGE, melainkan akan ditarik ke atas melalui mekanisme persetujuan berjenjang," ujar Fransetya dalam sebuah pertemuan media di Jakarta Pusat.
Ia merinci bahwa struktur kepemilikan yang melibatkan Danantara sebagai ultimate beneficial owner (UBO), serta PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE) sebagai induk perusahaan, membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih kompleks. Perseroan akan terus memantau arah kebijakan dari para pemegang saham tersebut sebelum menetapkan angka final.
Meski ada proses birokrasi di tingkat holding, Fransetya memberikan sinyal optimis bahwa besaran dividen tahun ini kemungkinan besar tidak akan jauh berbeda dari pencapaian tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didasari oleh rekam jejak perusahaan yang konsisten serta peran strategis PGEO sebagai mesin pencetak arus kas (cash generating entity) bagi grup Pertamina.
"Jika melihat catatan masa lalu, kami memprediksi polanya akan serupa. Mengingat keputusan ini diambil dari level atas, kami melihat arahnya akan tetap konsisten dengan tren sebelumnya," tambahnya.
Di sisi lain, perusahaan tetap harus menjaga keseimbangan antara memberikan keuntungan kepada investor dan kebutuhan ekspansi bisnis. PGEO saat ini tengah fokus mencari skema pembiayaan yang paling efisien agar proyek-proyek pengembangan energi terbarukan di masa depan tetap menguntungkan secara ekonomi.
Optimisme ini didukung oleh performa keuangan yang sangat impresif. Pada kuartal III-2026, PGEO berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,45 persen secara tahunan (year on year) menjadi US$126,62 juta atau setara Rp2,3 triliun. Pendapatan perusahaan juga naik 10,46 persen menjadi US$352,20 juta, sementara EBITDA melonjak 15,58 persen ke angka US$287,77 juta.
Tak hanya dari sisi finansial, operasional perusahaan juga mencetak sejarah baru. PGEO berhasil mencapai rekor produksi energi tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebesar 4.114 Giga Watt hour (GWh) sepanjang periode Januari hingga September 2026. Pencapaian ini memperkuat posisi PGEO sebagai pemain kunci dalam transisi energi hijau di Indonesia.







