faseberita.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus rela menutup hari dengan pelemahan cukup signifikan sebesar 0,80% atau merosot 41,01 poin ke level 5.057,05. Kondisi ini terjadi setelah pasar mengalami volatilitas yang cukup tajam sejak pembukaan sesi.
Pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini tergolong sangat dinamis. Pada menit-menit awal perdagangan, IHSG sebenarnya sempat memberikan harapan dengan melonjak ke area 5.110, melampaui angka penutupan sebelumnya. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif membuat indeks berbalik arah dan terjun bebas hingga menyentuh titik terendah di kisaran 4.980 pada pukul 09.40 WIB.

Meski sempat mengalami koreksi tajam lebih dari 100 poin dari titik tertingginya, IHSG perlahan mencoba melakukan pemulihan (recovery). Indeks bergerak fluktuatif di rentang 5.000 hingga 5.060 sepanjang sisa sesi perdagangan. Menjelang penutupan, indeks sempat menyentuh angka 5.073 sebelum akhirnya mendarat di level 5.057,05. Total nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp10,38 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 351,48 juta lot.
Berdasarkan data pasar, sektor utilitas menjadi penyumbang pelemahan terbesar dengan penurunan mencapai 4,85%. Disusul oleh sektor material dasar yang merosot 2,72% dan sektor real estate yang turun 2,22%. Beberapa saham blue chip yang turut menekan indeks antara lain PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), serta saham grup Barito seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT).
Di sisi lain, upaya penahanan jatuhnya indeks dilakukan oleh saham-saham seperti PT Astra International Tbk. (ASII), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
Sentimen global menjadi faktor utama yang membayangi pasar domestik. Pelemahan Wall Street dan rilis data inflasi PCE Amerika Serikat yang melonjak 0,5% secara bulanan menjadi alarm bagi investor. Kenaikan inflasi di AS ini, yang didorong oleh lonjakan harga energi sebesar 9,2%, memberikan tekanan pada kebijakan moneter The Fed dan berdampak pada nilai tukar rupiah.
Menanggapi situasi ini, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kebijakan suku bunga BI Rate ke depan tidak akan secara otomatis mengikuti langkah The Fed. BI akan tetap berpegang pada data ekonomi domestik guna menjaga stabilitas rupiah yang sempat tertekan di level Rp18.100 per US$.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan rilis data PDB Zona Euro yang diprediksi akan mengalami perlambatan. Kombinasi ketidakpastian ekonomi global ini membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengalokasikan asetnya di pasar saham Indonesia.







