News  

Laba BRPT Merosot Tajam Mengapa Bisa

admin
Laba BRPT Merosot Tajam Mengapa Bisa

faseberita.id – PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), salah satu emiten raksasa milik konglomerat Prajogo Pangestu, baru saja merilis laporan kinerja keuangan terbaru hingga kuartal III/2026. Hasilnya cukup mengejutkan pasar, di mana perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih yang sangat signifikan secara tahunan.

Berdasarkan data laporan keuangan tersebut, laba bersih setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$229 juta atau setara dengan Rp4,15 triliun (asumsi kurs Rp18.147 per US$). Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan kemerosotan tajam sebesar 60,65% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan mampu membukukan laba sebesar US$582 juta.

Laba BRPT Merosot Tajam Mengapa Bisa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi serupa juga terjadi pada laba bersih konsolidasian BRPT. Perusahaan melaporkan laba sebesar US$616 juta atau sekitar Rp11,18 triliun (kurs Rp18.148 per dolar AS), yang berarti mengalami penurunan sebesar 66,14% YoY dibandingkan capaian US$1,82 miliar pada tahun sebelumnya.

Menanggapi fenomena ini, Presiden Direktur Barito Pacific, Agus Pangestu, menjelaskan bahwa penurunan tersebut tidak lepas dari dinamika pasar global yang sedang tidak menentu. Menurutnya, lingkungan bisnis internasional saat ini masih dibayangi oleh berbagai tantangan besar, terutama di sektor energi.

"Memasuki kuartal ketiga tahun 2026, lingkungan bisnis global masih diwarnai oleh berbagai tantangan, khususnya di sektor energi, di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar yang berkelanjutan," ungkap Agus dalam keterangan resminya.

Meski laba bersih mengalami penyusutan, ada catatan positif yang patut diperhatikan. Pendapatan bersih konsolidasian BRPT justru melonjak drastis sebesar 56,3% YoY menjadi US$8,7 miliar hingga akhir September 2026. Lonjakan pendapatan ini didorong oleh performa kuat dari entitas anak, yakni Chandra Asri Group yang bergerak di sektor petrokimia.

Selain itu, sektor energi juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 9,63% YoY menjadi US$501 juta. Khusus pada segmen energi terbarukan, terdapat kenaikan pendapatan sebesar 9,6% YoY. Agus menyebutkan bahwa pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan kapasitas pembangkitan panas bumi pasca proyek retrofit serta stabilitas output dari pembangkit angin.

Terkait anjloknya laba secara drastis, Agus memberikan klarifikasi penting. Ia menyebutkan bahwa perbandingan kinerja dengan kuartal III/2025 menjadi tidak apel-ke-apel karena adanya faktor "basis pembanding" yang sangat tinggi. Pada tahun sebelumnya, perusahaan mencatatkan keuntungan besar dari pengakuan keuntungan (bargain purchase gain) atas akuisisi Aster.

"Dengan mengecualikan keuntungan yang bersifat non-berulang tersebut, perseroan tetap mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang kuat," tegas Agus.

Di sisi lain, fundamental perusahaan tetap terlihat kokoh. Total aset emiten milik Prajogo Pangestu ini tumbuh 12,82% YoY menjadi US$19,58 miliar. Sementara itu, rasio utang bersih terhadap ekuitas (net debt to equity ratio) berada di level 0,76x, yang menunjukkan manajemen risiko keuangan yang masih terjaga.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *