Wisata

Pemandian Tangkahan Raja: Keindahan Alam yang Manjakan Mata

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Tangkahan Raja dulunya merupakan hutan yang tidak pernah disentuh manusia. Konon katanya, di sebelah utara, di tangkahan itu terdapat sebuah pohon besar yang disebut pohon ‘raja’.

Manusia bahkan dilarang mendekat apalagi menginjak pohon yang berada di Nagori Nagur Usang, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun itu. Sampai sekarang pohon tersebut juga masih terlihat.

Kini tangkahan tersebut dijadikan sebagai tempat wisata pemandian. Hanya saja, akses jalan menuju ke sana cukup sulit dilalui. Namun, hal itu akan terbayar dengan pemandangan indah dan udara segar, apalagi lokasi pemandian berada di tengah-tengah kebun.

Pangulu Nagori Nagur Usang Benson Damanik saat ditemui wartawan, Minggu (19/1) menceritakan, Tangkahan Raja dulunya merupakan hutan yang tidak pernah disentuh manusia

Namun seiring berjalannya waktu, PT Bridgestone menguasai lahan ratusan hektare di sekitar tangkahan raja. Tangkahan itu pun dijadikan sejumlah kelompok sebagai sumber bebatuan dan pasir.

Perlahan-lahan tangkahan itu digali dan diambil sumber daya alamnya. Hingga pada tahun 2016, aktivitas galian-c berhenti, Tangkahan kembali ke masyarakat.

Seiring berhentinya aktivitas galian-c, tangkahan yang dialiri 3 sungai itu menjadi tempat permandian masyarakat dan karyawan perkebunan.

Namun, kata Benson, yang menjadi kendala adalah jalan menuju ke lokasi sangat sulit. Sehingga membuat pengunjung kesulitan.

Namun, sesampai di Tangkahan Raja, rasa lelah akan terbayarkan. Pemandangan air yang jernih dan pepohonan akan memanjakan mata.

Airnya juga segar yang memiliki sedikitnya 5 titik air terjun kecil. Udaranya juga segar. Untuk menikmati Tangkahan Raja, pengunjung tidak dikenakan karcis masuk alias gratis.

Simpang Sinaksak, Jalan Medan, Tapian Dolok menjadi pintu masuk utama.

Kemudian sekitar 100 meter, akan menemukan simpang jalan setapak yang berada di sebelah kanan. Dari situlah akan diarahkan ke perumahan perkebunan.

“Kalau dari Simpang Sinaksak ke lokasi ada sekitar 8 km,” kata pria yang sudah menjabat sebagai pangulu selama 20 tahun itu.

Dikisahkan, dulunya, lokasi itu dijadikan warga sebagai tempat untuk mandi. Namun, seiring perkembangan zaman, oleh warga sepakat menjadikan tempat itu sebagai lokasi wisata.

“Pemandian itu merupakan pertemuan dari tiga titik sungai, yakni aliran sungai Bah Salak, Bah Mali dan Bah Ranggasan. Kalau secara historinya (cerita rakayat, red) dulunya lokasi ini masih hutan. Saat itu diberi nama Jahrahan. Namun, pada tahun 1991, barulah dibuka dan menjadi seperti sekarang,” terangnya.

Benson mengatakan, untuk memperindah lokasi wisata itu, banyak warga mengusulkan agar pembangunanya menggunakan dana desa. Namun, karena awalnya menggunakan dana pribadi, jadi dia takut ada konflik di belakang hari.

“Dasar itulah saya sampaikan kepada Maujana dan LPM sebagai mitra kami di nagori agar lebih berpotensi di luar kegiatan pembangunan seperti berjualan. Jadi pemberdayaan ke masyarakatlah. Kita juga menanam tanaman di sini. Jadi, tugas warga yang berjualan di sinilah nantinya yang merawat kebersihan,” ujarnya sembari mengatakan pengunjung paling jauh berasal dari Labura.

Membuka Tutup Bendungan Manual

Atas inisiatif masyarakat sekitar, ujung pemandian ditutup dengan bendungan manual. Bendungannya terbuat dari lapisan beberapa lembar papan dan 2 buah besi yang ditempel di kedua sisi tangkahan. Bendungan itu ditutup setiap pukul 19.00 – 07.00 WIB.

“Itu biar airnya setiap hari berganti. Nanti pas jam 7 malam ada yang membuka. Air yang dipakai masyarakat dari pagi itu kan mengalir ke bawah, kemudian air yang dari atas sana berganti dan ditutup lagi di bawah,” terangnya. (Mag 04/des)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close