Wisata

Menara Pandang dan Kebun Raya di Sipirok Tujuan Widyawisata

TAPSEL, FaseBerita.ID– PT Agincourt Resources (PTAR) menyumbangkan bangunan menara pandang dengan tujuh lantai dan berketinggian 31,5 Meter dengan kontruksi berpondasi tiang pancang yang diikat balok-balok beton di Kebun Raya Sipirok, dan rampung dibangun sekaligus diserahterimakan pada Senin 1 Pebruari 2021 lalu.

Segera saja setelah itu, Menara Pandang yang dibangun di lahan seluas 583 meter persegi ini yang berdampingan dengan kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, menjadi tujuan wisata masyarakat di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Hampir setiap hari, ratusan pengunjung mendatangi Menara yang dibangun bersumber dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) bidang Lingkungan PTAR. Dan dikelola UPTD Kebun Raya Sipirok.

Banyaknya pengunjung juga berimbas pada usaha-usaha kecil jajanan yang berdagang secara asong di sekitaran jalan menuju manara ini. Selain karena akses yang mudah, menara pandang ini menjadi salah satu spot yang menarik perhatian bagi keluarga yang datang ke taman bunga Sarasi dan Masjid Syahrun Nur.

“Sekarang kalau wisata ke Sipirok gak lengkap kalau gak ke Menara Pandang. Apalagi sudah satu lokasi sama taman bunga itu. Mau kuliner Ikan Mas Sinyarnyar juga dekat dari sini. Cuma kalau turun dari tangga Menara Pandang ini aku agak gemetar, karena bisa lihat langsung ke bawah itu,” cerita Fahmi (43), warga Padangsidimpuan.

Jumat (9/4/2021) sore, Kami pun berkesempatan mengunjungi menara yang memakan kurang lebih 5 Bulan waktu pembangunannya ini. Dari luar, menara ini terlihat identik Tapanuli Selatan dengan warna hitam, putihdan merah. Di badan menara terpampang lambang Pemkab Tapsel dan PTAR. Pelataran parkiran belum sepenuhnya selesai, dan masih berlumpur. Namun begitu, pengunjung secara berombongan cukup banyak berdatangan, meski pun kondisi cuaca waktu itu hujan dan berkabut.

Untuk memasuki Menara Pandang yang menjadi landmark Sipirok ini, pengunjung harus membayar retribusi sebesar Rp 10 ribu-15 ribu per-orang. Dan untuk menjelajahi setiap lantainya, selain melalui tangga. Di sini juga tersedia elevator (lift) yang diutamakan bagi pengunjung lanjut usia, ibu hamil dan penyandang disabilitas (keterbatasan fisik). Berkapasitas 25 orang.

Di atas menara dan setiap lantainya ada selasar yang dibatas sejumlah perangkat baja untuk keamanan pengunjung. Di sini, tiupan angin dengan suhu dingin Sipirok tak henti menyapa wajah. Memandang ke luar, kita bisa melihat hamparan hijau bukit barisan di arah timur. Memandang ke barat, terlihat gagahnya Gunung Lubuk Raya, gunung stratovolcano yang menjadi Suaka Alam. Dan di Utara, ada Cagar Alam Sibual-buali yang juga merupakan persebaran habitat Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis). Dari sini juga terlihat jelas, keindahan penataan taman sarasi, taman bunga yang menghiasi perkantoran Pemkab Tapsel.

“Saat ini mungkin baru hamparan hijau, dan persawahan Sipirok yang masih bisa dilihat. Tapi tidak sabar juga, nanti kebun raya ini sudah rimbun dengan berbagai macam vegetasi yang direncakan pengelola, bakalan asyik, dan mungkin fauna sejenis burung-burung pun banyak yang hilir mudik, menambah keindahan di sini. Dan tentunya, setiap orang bisa datang belajar lingkungan kemari,” harap Muhammad Ridho (25) salah seorang pengunjung yang datang bersama keluarganya dari Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.

Menara Pandang merupakan satu kesatuan dengan Kebun Raya Sipirok. Presiden Direktur PTAR Muliady Sutio menuturkan, Menara Pandang ini merupakan salah satu fasilitas pendukung di Kebun Raya Sipirok. Dan salah satu kontribusi PTAR melalui program PPM di bidang lingkungan. Dengan harapan, Kebun Raya Sipirok ini bisa menjadi tujuan atau destinasi wisata milik daerah yang memiliki keunggulan serta berdampak luas kepada pembangunan Kabupaten Tapanuli Selatan secara umum.

PTAR sebagai salah satu anggota Astra Group terus berkomitmen untuk memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan khususnya di sekitar wilayah operasional Tambang Emas Martabe. Salah satunya adalah pengembangan Kebun Raya Sipirok sebagai pusat edukasi lingkungan dan destinasi wisata di Tapanuli Selatan.

“Keanekaragaman hayati telah menjadi perhatian utama PTAR melalui berbagai program pengelolaan lingkungan yang seksama dan terarah. Salah satu contohnya adalah fasilitas pembibitan Tambang Emas Martabe yang mengusahakan bibit tanaman lokal untuk mendukung program rehabilitasi. Ini sejalan dengan visi pengembangan Kebun Raya Sipirok yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan juga akan berfungsi sebagai pusat penelitian (edukasi) dan pusat konservasi tumbuhan atau flora langka yang ada di Tapanuli Selatan dan sekitarnya,” kata Muliady, saat penyerahterimaan bangunan ini, beberapa waktu sebelumnya.

Kebun Raya Sipirok memiliki luas lebih kurang 90 Hektar, dan akan berfungsi sebagai pusat penelitian (edukasi), pusat konservasi tumbuhan atau flora langka, dan destinasi berwidyawisata bagi pelajar atau warga daerah Tapanuli Selatan dan sekitarnya. Pengelolaan Kebun Raya Sipirok ini didampingi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam memberikan pembinaan pusat penelitian dan pusat konservasi tumbuhan atau flora langka, termasuk memberikan pelatihan teknis pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan kaidah-kaidah kebun raya.

Kebun Raya Sipirok terbagi ke dalam beberapa zonasi, yakni zonasi kayu-kayuan, zonasi pakan orang utan, zonasi tanaman industri, dan banyak lagi. Sejumlah tumbuhan yang ada di dalam Kebun Raya Sipirok merupakan hibah dari LIPI dan hasil eksplorasi mandiri dari tim Pemkab Tapsel serta partisipasi pihak lain. Di area Kebun Raya Sipirok juga telah dilakukan penanaman buah lokal endemik Tapanuli yang sudah hampir punah, diantaranya buah jenis hapundung, bukbak, hopong, salak warna merah dan jenis buah-buahan hutan lokal lainnya.(san/fabe)