Wisata

Lubuk Larangan, Pola Privatisasi Tradisional Bisa Hasilkan PADes

TAPTENG, FaseBerita.ID – Kelurahan Sibabangun adalah salah satu kelurahan yang terletak di perbatasan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Di sepanjang pemukiman penduduk, mengalir sebuah sungai yang biasa disebut warga dengan nama sungai Sibabangun. Sungai inilah yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat di sana.

Sungai Sibabangun yang mengalir membelah pemukiman penduduk sepanjang 7 kilometer, telah dijadikan sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dapat mengharmonisasikan antara ekonomi masyarakat dengan keinginan melestarikan sumber daya air. Kurun waktu 17 tahun belakangan, pola privatisasi tradisional lubuk larangan, menjadi kearifan lokal yang terdapat di Kelurahan Sibabangun. Kearifan lokal dengan warga setempat menjadi budaya tahunan yang terus dilesatarikan.

Dari tujuan awal untuk melestarikan sumber daya air, hasil pengelolaaan ikan-ikan lubuk larangan di Kelurahan Sibabangun, dapat menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang lumayan membanggakan. Lubuk larangan yang dibuka setahun sekali ini, bisa menghasilkan uang puluhan hingga ratusan Juta, dari hasil budidaya ikan yang sangat efektif.

Disamping menghasilkan uang dari penjualan ikan pada saat panen, kawasan konservasi perairan yang dikelola secara zonasi ini, dapat menarik wisatawan lokal untuk berkunjung. Proses pembukaan lubuk larangan, menjadi ajang yang selalu dinantikan oleh penggila pancing mania, untuk beradu kelihaian memancing ikan. Dengan hanya merogoh kocek Rp100 ribu, para pemancing mania seharian penuh dapat menyalurkan hobi sekaligus mengadu untung untuk mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya.

“Dari hasil uang pendaftaran, peserta lomba mancing dan penjualan ikan, setiap tahunnya kita bisa meraup keuntungan puluhan juta rupuah,” ujar Ambat Parsaulian Hutagalung saat pelaksanaan pancing mania sekaligus pembukaan lubuk larangan, Minggu (5/1).

Tokoh pemuda Kelurahan Sibabangun ini memaparkan, umumnya warga di Kelurahan Sibabangun selalu memanfaatkan sungai untuk pembudidayaan ikan dengan membentuk kelompok lubuk larangan. Disamping untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem air, kegiatan tersebut bertujuan mengarahkan dan mendidik pamuda-pemudi untuk dapat menciptakan karya nyata yang bermanfaat bagi khalayak banyak.

“Disamping sebagai ajang kreasi, kegiatan lubuk larangan ini dapat memupuk rasa kebersamaan sesama warga. Bahkan secara tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan setiap anggotanya,” timpalnya.

Diungkapkan, dalam kurun 1 tahun lubuk larangan melakukan pemanenan 1 kali dengan kegiatan hari pertama memberikan kesempatan kepada pemancing untuk menyalurkan hobi. Selanjutnya hari kedua baru digelar panen bersama yang ikan hasil tangkapan akan dijual dan sebahagian lagi di bagikan kepada warga untuk dinikmati bersama keluarga.

“Dengan kebersamaan, kegiatan ini menjadi salah satu wadah untuk menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang akan kita manfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sosial dan kegiatan pemberdayaan kemasyarakatan,” pungkasnya. (ztm)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button