Wisata

Cagar Budaya Sebagai Identitas Etnis

FaseBerita.ID – Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menyelenggarakan Sosialisasi Cagar Budaya Simalungun di Hotel Atsari, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Jumat (18/10/2019).

Lucas Partanda Koestoro salah satu narasumber yang dihadirkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simalungun menjelaskan tentang Sumber Daya Arkeologi dan Cagar Budaya serta upaya pelestariannya. Menurutnya, perlunya kehati-hatian dalam mendiskripsikan cagar budaya.

“Objek arkeologi bukan hanya dilihat dari segi usia sehingga bisa dikatakan untuk menjadi cagar budaya. Harus ada kesepakatan untuk menjadikan objek arkeologis sebagai cagar budaya, baik dari masyarakat dan stakeholder, kesepakatan itulah yang menjadi dasar untuk pengajuan objek cagar budaya,” terangnya.

Lanjut Lucas, mereka bersama dengan tim pernah meneliti di salah satu situs megalitik Batu Gajah. Mereka menemukan banyak hal disana terkait dengan peninggalan-peninggalan situs megalitik Batu Gajah.

“Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) tugasnya bukan hanya membantu Pemerintah untuk mencari dan menetapkan objek arkeologis sebagai cagar budaya. Namun, TACB juga bisa tidak menjadikan cagar budaya jika memang sudah terdegradasi dari bentuk fisik,” terang Lucas.

Narasumber berikutnya, Manguji Nababan selaku Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak dari Universitas HKBP Nomensen dan Tenaga Ahli Cagar Budaya Provinsi Sumatera Utara. Ia menjelaskan bahwa dalam merestorasi objek cagar budaya harus didasari payung hukum. Arti penting Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya ialah sebuah perlindungan hukum terhadap cagar budaya.

“Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, atau kebudayaan melalui proses penetapan,” jelasnya.

“Ada lima jenis cagar budaya, yaitu Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya,” terangnya.

Lanjut Manguji Nababan, cagar budaya juga sebagai identitas etnis. Baru ini, Tortor Sombah Simalungun ditetapkan sebagai warisan Budaya tak benda.

“Baru ini kita tenaga ahli Cagar Budaya tingkat Provinsi telah merekomendasikan ke Pemerintah Pusat untuk menetapkan Tortor Sombah Simalungun menjadi warisan Budaya tak benda. Pelestarian Cagar Budaya sangat penting untuk menyesuaikan pada Zaman yang akan datang agar tetap ada,” ungkap Manguji. (mag04)



Unefa

Pascasarjana
Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close