Wisata

Berikut 5 Destinasi Wisata Superprioritas: Rayuan Matahari Terbit dan Pantai Merah Muda

Lanskap alam memukau, kaya sejarah, potensi ekonomi tinggi, dan ditunjang berbagai fasilitas yang telah dan akan dibangun. Tapi, upaya pemerintah menjadikan lima destinasi ini sebagai “Bali Baru” juga menghadapi sejumlah tantangan.

SHABRINA P, Magelang–DEBORA S, Manggarai Barat

Matahari subuh menyembul malu. Sinar kekuningan berubah menjadi oranye. Kemudian bersalin lagi menjadi merah.

Deretan stupa dan relief di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, yang tadinya hanya bisa dilihat dengan sinar senter pada Kamis lalu (5/12) kini tersinari cahaya merah yang perlahan muncul.

Para pengunjung pun satu per satu memasukkan senter yang dibawa. Ganti mengeluarkan ponsel dan kamera. Mengabadikan keelokan pagi yang terpapar di depan mereka.

”This is awesome. Beautiful (Ini keren sekali. Cantik),” ujar Piyanuch Paksukcharem yang datang jauh-jauh dari Bangkok, Thailand, sambil memicingkan mata kanannya ke lensa kameranya.

Berkilo-kilometer dari Borobudur, sehari berselang (6/12), nun di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, serombongan wisatawan tengah menikmati paket perjalanan satu hari. Menyesap keindahan laut, sebelum singgah di Pulau Padar yang menawarkan jalur tracking menantang sekaligus berpemandangan elok. Dan, hinggap di Pulau Komodo yang tak jadi ditutup untuk umum buat bertemu kadal-kadal raksasa dari zaman purba.

Ya, musim liburan akhir tahun telah tiba. Mari menjelajahi keelokan sudut-sudut Indonesia. Lima di antaranya ditetapkan pemerintah sebagai destinasi superprioritas. Atau dikenal juga dengan sebutan ”5 Bali Baru.” Borobudur dan Labuan Bajo termasuk di dalamnya.

Silakan memilih: menjelajahi Toba, danau purba raksasa di Sumatera Utara sana. Atau ke pantai, bukit, dan calon sirkuit yang akan menggelar balapan MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat.

Atau juga melihat betapa berubahnya Mandalika. Dari kawasan perbukitan gersang yang dulunya rawan gesekan sosial. Menjadi calon tuan rumah balapan MotoGP yang juga punya bukit serta tanjung yang menawarkan lanskap indah.

Di Borobudur, berbagai persiapan juga telah dilakukan untuk menyambut tamu yang diharapkan jumlahnya bakal berlipat-lipat. Salah satunya, memperbanyak pertunjukan sendratari dan pesta seni.

Selain itu, juga memperlebar pintu-pintu masuk menuju pelataran yang telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia. ”Kami ditarget untuk menarik 2,5 juta wisman tahun 2020. Itu jumlah yang besar sekali,” ujar General Manager Kantor Unit Borobudur PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan Ratu Boko I Gusti Putu Ngurah Sedana.

Tahun 2020 juga dicanangkan kawasan candi bakal mengusung konsep zero emission. Kendaraan dan fasilitas transportasi di kawasan candi untuk pengunjung akan mengusung konsep hijau agar tak berpengaruh buruk pada lingkungan. Mulai kereta kencana, skuter Grab, mobil listrik, shuttle bus, semuanya dapat digunakan pengunjung tanpa menghasilkan polusi udara.

Meski sudah mempersiapkan berbagai hiburan dan fasilitas pendukung, meningkatkan angka kunjungan masih menjadi tantangan bagi pengelola taman wisata ini. Adanya perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global membuat daya beli wisman untuk aktivitas leisure menurun.

Belum lagi mahalnya tiket pesawat domestik. ”Ini memang tidak mudah, tetapi target tetap besar. Ya semoga saja bisa terpenuhi,” sambungnya.

Untuk bisa meningkatkan kunjungan, pihaknya juga sudah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan BUMN untuk membina balai ekonomi desa (balkondes). Ada 20 balkondes di sekitar kawasan Candi Borobudur yang dapat menjadi destinasi wisata alternatif.

Jadi, setelah pengunjung datang ke Borobudur, pengunjung dapat mengunjungi desa-desa di sekitar candi. Desa-desa itu menawarkan layanan home stay, wisata pedesaan, produk kerajinan, wisata kuliner, dan lain-lain yang sangat menarik.

Salah satu infrastruktur yang diharapkan dapat lebih memfasilitasi kunjungan ke Candi Borobudur adalah Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Bandara itu sudah memiliki rute bus DAMRI menuju kawasan Borobudur.

Tarifnya Rp46 ribu per satu kali perjalanan. Dalam sehari, rata-rata ada dua kali perjalanan bus dari bandara menuju tempat wisata itu, dan juga sebaliknya. Namun, jumlah perjalanan tersebut akan terus ditambah mengikuti jadwal landing pesawat per harinya.

Saat ini Bandara YIA masih beroperasi minimum. Dari total luasan terminal yang mencapai 219.000 meter persegi, yang sudah digunakan baru 12.900 meter persegi atau sekitar 0,8 persen dari total kapasitas terminal. Jadwal penerbangan langsung menuju Bandara YIA juga masih terbatas.

General Manager PT Angkasa Pura I Yogyakarta Agus Pandu Purnama mengungkapkan, pembangunan fisik Bandara YIA sudah 88 persen. Diharapkan akhir tahun ini sudah 100 persen. ”Nanti kami juga akan finishing untuk mempercantik bandara ini,” katanya.

Bandara YIA yang beroperasi sejak Mei 2019 itu sudah bisa dilewati kendaraan jalur darat. Flyover sudah terbangun dan terminalnya sudah bisa dipakai sebagian kecil. Pusat informasi turis dan customer service juga sudah tersedia. Hanya, tenant yang beroperasi di kawasan bandara masih sedikit. Beberapa sudut di dalam terminal juga masih terasa panas karena masih proses finishing pembangunan.

Kereta menuju bandara belum tersedia. Saat ini kereta bandara yang rutenya dari Stasiun Kedundang menuju Bandara YIA masih dalam tahap pembebasan lahan. Diharapkan kereta bandara tersebut bisa beroperasi akhir tahun 2020 dan bisa membawa lebih banyak penumpang menuju Bandara YIA.

Di Labuan Bajo, ada ratusan kapal yang siap melayani paket perjalanan ke pulau-pulau sekitar. Lanskap alam di permukaan lautnya juga tidak kalah menakjubkan. Wisatawan berlomba-lomba mencari pengalaman liburan sekhas mungkin. Mulai bermalam di atas kapal pinisi hingga berkemah di Pulau Komodo.

Umumnya butuh tiga hari dua malam mengikuti paket tur ini, dengan harga paket menembus Rp 3 jutaan. Untuk yang ingin hemat, biasanya mengambil paket sehari dengan beberapa destinasi tanpa menginap di atas kapal. Biayanya sekitar Rp 1,2 juta.

Tidak murah memang. Maklum, pemerintah pusat dan Provinsi NTT telah berniat untuk menyulap kawasan Labuan Bajo menjadi kawasan pariwisata superpremium. Meskipun, menurut insan pariwisata setempat sendiri, definisi premium belum jelas.

Salah satu yang membuat paket-paket perjalanan itu cukup mahal adalah sewa kapalnya. Sebab, pemerintah daerah setempat menetapkan pajak untuk kapal yang masuk ke area Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo.

Ini dilakukan sejak dua tahun terakhir oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat. Tujuannya untuk mengantisipasi defisit pendapatan.

Sebelum diatur sejak 2017, cukup banyak ”wisatawan gelap” yang merugikan daerah Labuan Bajo secara tidak langsung. Mereka datang ke Pulau Komodo dan sekitarnya menggunakan kapal langsung dari pulau lain, seperti Lombok.

Kapal-kapal dari luar pun asal bersandar di pelabuhan. ”Sempat ada perbedaan data pengunjung antara Balai Taman Nasional Komodo dengan kami, sampai 46 ribu orang,” tutur Kepala Dinas Pariwisata Labuan Bajo Agustinus Rinus.

Biaya yang seharusnya masuk ke kas daerah Manggarai Barat itu luput. Bahkan, Agustinus menjelaskan bahwa kerugian daerah sampai ratusan juta rupiah. ”Misalnya kalau normal seharusnya kita dapat Rp 600 juta setahun, ini hanya Rp 170 juta. Jadi hilangnya banyak,” imbuhnya.

Wacana tentang wisata superpremium sendiri masih digodok sejak tingkat pusat. Agustinus mengakui pemerintah masih meraba-raba definisi pariwisata superpremium itu. ”Sekarang masih dibuat skema dan grand design-nya seperti apa,” ujarnya.

Tapi, untuk mewujudkannya, pemerintah harus berhadapan dengan berbagai masalah di Labuan Bajo. Di antaranya SDM (sumber daya manusia) dan sampah.

Agustinus menyebutkan, hanya 40 persen warga lokal yang terserap industri pariwisata setempat. Sisanya pendatang. Termasuk agen-agen wisata di Labuan Bajo. Agak berbeda dengan kondisi di Pulau Komodo, misalnya. Saat ini, 100 persen SDM yang diberdayakan di sana adalah warga asli Pulau Komodo dan Labuan Bajo.

”Kami guide hanya selama di kapal, tapi ketika sudah di Pulau Komodo harus dengan ranger. Kami tidak boleh,” tutur Hugolinus Tasman, salah seorang guide, saat mengantarkan tamu ke pulau tersebut.

Tak mudah memang tantangan yang akan dihadapi pemerintah untuk mewujudkan ”Bali-Bali Baru”. Tapi, tak mudah pula bagi siapa saja untuk menampik rayuan keindahan atas dan bawah laut kawasan Labuan Bajo, beserta pantai putih dan merah muda di Pulau Komodo.

Sebab, berwisata itu tak cuma urusan fisik dan duit. Tapi, menyangkut hati pula. Soal kepuasan, tak akan pernah bisa dihitung dengan nominal.

Seperti Piyanuch pada Kamis subuh pekan lalu itu di Borobudur. Di candi Buddha tersebut, dia tak hanya mengejar foto untuk dipamerkan di Instagram. ”Saya ke sini juga karena ingin mengenal Buddha lebih jauh,” katanya. (jp)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button