Saintek

Badak Sumatra, Riwayatmu Kini

Catatan Helisa Saragih

BADAK Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Badak yang memiliki ukuran kecil dibandingkan semua sub-spesies badak di dunia, meskipun badak ini termasuk dalam hewan mamalia yang besar.

Populasi terbesar dan dapat dikatakan memadai untuk berkembang biak saat ini lokasinya berada di Sumatera, sementara populasi yang lebih kecil terdapat di bagian sabah dan semenanjung Malaysia.

Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan, meskipun  umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat.

Badak Sumatera sering disebut sebagai penjelajah dan pemakan buah khususnya mangga liar dan buah fikus, daun daunan, ranting ranting kecil hingga kulit kayu, jenis badak ini lebih menyukai dataran rendah karena banyak terdapat sumber makanan.

Tidak seperti jenis hewan yang biasanya hidup secara koloni atau berkelompok besar, berbeda dengan jenis badak ini hidup di alam dalam kelompok kecil dan umumnya menyendiri disebut juga dengan soliter.

Badak Sumatera juga dikenal memiliki rambut terbanyak dibandingkan seluruh sub spesies badak di dunia, sehingga sering disebut dengan hairy rhino ( badak berambut) memiliki telinga yang besar, kulit berwarna coklat keabu abuan atau kemerah merahan sebagian besar ditutupi oleh rambut dan kerut di sekitar  matanya. Panjang cula depan biasanya relatif pendek dan tidak lebih dari 10 cm.

Pada saat badak sumatera lahir hingga remaja biasanya kulitnya ditutupi oleh rambut yang lebat berwarna coklat kemerahan, dengan bertambahnya usia satwa ini maka rambut yang menutupi kulitnya semakin jarang dan berubah menjadi warna kehitaman. Panjang tubuh satwa dewasa berkisar antara 2 – 3 meter dengan tinggi 1 – 1,5  meter dan memiliki berat  berkisar 600 – 950 kg.

Ancaman Kepunahan

Badak Sumatera merupakan satu dari lima spesies badak tersisa di dunia,  satu satunya spesies dari marga  Dicerorhinus. Sebagaimana dua spesies badak afrika ( Ceratotherium simum,  badak putih dan Diceros bicornis, badak hitam), dahulu persebarannya ada di india, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia dan tiongkok.

Kala itu, badak sumatera hidup di bagian barat daya tiongkok, khusunya di Sichuan Populasi Badak Sumatera semakin langka. Menurut IUCN Redlist populasinya berkisar antara 220 – 275 ekor (1997), bahkan menurut Internatinal Rhino Foundation (Virginia) diperkirakan populasi badak sumatera tidak mencapai 200 (2010).

Di Sumatera populasi badak sumatera terkonsentrasi di Taman Nasional Bukit Barisan (60 – 80) ekor, Taman Nasional Gunung Leuser (60 – 80 ), TN. Way Kambas ( 15 -25 ekor ), dan Taman Nasional Kerinci Seblat ( diperkirakan telah punah), sedangkan populasi di Kalimantan hingga sekarang belum teridentifikasi.

Selain itu, badak sumatera juga terdaftar dalam CITES Apendiks I sejak tahun 1975 dilindungi secara international dari segala bentuk perdagangan.

Menurunnya populasi satwa ini karena adanya deforasi hutan dan pembakaran hutan secara liar oleh masyarakat yang tidak berpikir panjang untuk kelestarian popolasi yang ada didalamnya seperti badak sumatera, yang mementingkan dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar dan segala yang ada di dalam hutan.

Akibat semakin berkurang dan rusaknya hutan, sering dilaporkan kemunculan badak bercula dua ini di daerah pemukiman warga dan perkebunan, disamping rusaknya hutan ada saja faktor yang menyebabkan penurunan populasi yaitu perburuan liar untuk mengambil cula dan anggota tubuh lainnya biasanya dipercaya sebagai bahan obat tradisional telah berakibat pada populasi satwa tersebut dan statusnya saat ini adalah kritis ( Critically Endangered).

Dengan populasinya yang semakin kecil maka akan menjadikan satwa tersebut kedalam kategori hewan terancam punah karena seiring terjadi pembukaan hutan yang begitu cepat dan terbukanya akses terhadap lokasi di dalam  tanam nasional.

 

Lindungi Badak untuk Kehidupan Generasi Masa Depan

Agar populasi badak sumatera tidak punah maka dibutuhkan upaya penyelamatan yang harus dilakukan oleh masyarakat begitupun dengan lembaga lembaga penyelamatan hewan.

Bagi masyarakat yang berada di sekitar daerah hidupnya badak harus menjaga kelestarian  hutan dan tidak melakukan penebangan hutan secara liar agar badak dapat hidup di habitat alaminya di hutan dan tidak akan berada pada kawasan pemukiman warga dan perkebunannya karena kehilangan habitatnya sendiri.

Setiap pihak harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk kelestarian populasi badak karena itu merupakan bagian kekayaan yang dimiliki oleh negara yang sangat perlu untuk dilestarikan agar tidak punah.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah bekerjasama dengan WWF  (World Wildlife Fund) yang bekerjasama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berlokasi di Propinsi Bengkulu dan lampung dengan melakukan pengelolaan kawasan, pengembangan masyarakat, advokasi dan kebijakan, serta pendidikan dan penyadartahuan yang ber upaya merehabilitasi habitat badak sumatera di TNBBS khusunya di beberapa lokasi yang dikonversi secara ilegal untuk pengembangan perkebunan kopi dan beberapa produk pertanian lainnya.

Bagi masyarakat dilakukan patroli dalam menjaga kawasan juga sangat membantu upaya penyadartahuan masyarakat di desa desa sekitar taman nasional, tujuan dari upaya ini adalah agar kawasan yang sudah di alihkan fungsinya dapat direhabilitasi.

Sehingga dapat berfungsi kembali sebagai hutan habitat badak sumatera dan WWF juga dapat membantu memeperkuat upaya upaya anti perburuan  satwa dilindungi di taman nasional karena adanya tim patroli terlatih dikenal dengan nama Rhio Protection Unit ( RPU) yang dikelola oleh mitra LSM yayasan badak Indonesia dan International Rhino Foundation.

Akan berpatroli di areal areal kunci dan efektif menstabilkan pupolasi badak sumatera dari perburuan secara liar yang akan berdampak buruk bagi populasi badak tersebut.

Sangat penting bagi kita untuk menjaga populasi badak karena memiliki manfaat bagi ekosistem dimana kita tahu bahwa ada pohon yang hanya bisa berkembang biak dengan bantuan mahluk lain.

Badak yang suka berkubang dan bermain di pohon adalah sarana bagi benih pohon itu untuk tumbuh, benih itu yang akan terbang, menempel di tubuh badak karena adanya lumpur saat berkubang.

Benih itu lalu jatuh dan menyebar tumbuh di tempat lain yang berguna untuk menambah biodiversitas yang terdapat pada hutan tersebut. Kemampuan badak untuk berjalan dengan jarak yang sangat jauh juga dapat memperluas daerah benih tersebut dapat tersebar di berbagai tempat.

Hutan pun akan lestari dengan cepat, karena pepohonan berkembang biak, dan bukan dengan cara mengambil culanya yang akan bermanfaat bagi manusia yang dikatakan sebagai obat itu adalah hal yang ilegal dan dapat merusak populasinya.

Badak hidup tenang dan sehat itulah yang menjadi manfaat bagi manusia dan melestarikan lingkungan hidupnya yang akan menjadi warisan bagi generasi kedepan yang terus menjaga dan melestarikan hutan juga dengan semua mahluk hidup yang ada di dalamnya. Maka diperlukan adanya pencegahan dan penghapusan perburuan  badak sumatera yang akan merusak kekayaan alam.

Hal pencegahan tidak  hanya dilakukan oleh lembaga penyelamatan dan orang orang daerah nya tetapi seluruh masyarakat harus memiliki kesadaran yang lebih untuk selalu menjaga kelestarian hutan dengan tidak merusaknya dengan aksi penebangan dan pembukaan lahan yang menggantikan fungsi hutan. Karena akan banyak sekali mahluk hidup didalamnya yang akan kehilangan habitat layaknya badak sumatera saat ini yang upaya penyelamatannya melalui adanya taman nasional yang akan secara intensif menjaga populasi nya tidak punah.

Peran badak dalam suatu ekosistem salah satunya adalah sebagai penyebar benih tanaman sehingga secara tidak langsung membantu reboisasi hutan. Adanya dukungan pemerintah sangat penting dalam upaya penyelamatannya agar adanya pengelolaan habitat dengan baik studi dan habitat manajemen serta adanya pemantauan secara biologis, meningkatkan dukungan yang banyak dari berbagai pihak dan kepemimpinan yang kuat. (*)

 

**Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

Yogyakarta.

**Tulisan ini disajikan untuk Memperingati hari Cinta Puspa pada 5 November 2019 lalu juga untuk mengisi nilai tugas akhir sebelum Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Biodiversitas.

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close