Saintek

Aplikasi Intravtas, Solusi Bebas Macet: Fokus Untungkan Sopir dan Pengguna Angkot

FaseBerita.ID – Masalah kemacetan sudah dirasakan Surabaya. Karena itu, tim dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan aplikasi Intravtas untuk solusi bebas macet. Terutama agar warga kota beralih ke angkutan umum.

Erma Suryani menunjukkan cara penggunaan aplikasi Intravtas ciptaannya bersama tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lainnya di Ruang Sidang I Departemen Sistem Informasi ITS pada Kamis (30/1). Di dalam aplikasi tersebut, Erma langsung mengeklik menu ketersediaan angkutan kota (angkot) terdekat di sekitar kampus. Sejumlah angkot pun muncul di dalam layar aplikasi.

’’Kita tinggal klik saja gambar angkot untuk melihat ketersediaan angkotnya,’’ kata Erma mempraktikkan cara kerja aplikasi Intravtas di handphone pribadinya Sebagaimana aplikasi penyedia jasa transportasi online lainnya, Intravtas bisa menampilkan jarak menuju lokasi yang dituju, lama perjalanan, hingga biaya naik angkot. ’’Saat klik gambar angkot, kita bisa tahu penuh atau tidak. Kalau angkot itu penuh, kita bisa cek ketersediaan angkot yang lainnya,’’ katanya.

Ya, Intravtas merupakan aplikasi informasi travel lalu lintas. Aplikasi tersebut dibuat tim dosen ITS. Selain Erma, ada Rully Agus Hendrawan, Arif Wibisono dari departemen sistem informasi, dan guru besar Departemen Matematika ITS Prof Basuki Widodo.

Erma menuturkan, selama ini sudah ada beberapa aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk bisa menggunakan private car atau ojek online. Namun, belum ada aplikasi untuk angkutan umum. ’’Angkutan umum masih termarginalkan. Sementara itu, pesaingnya adalah private car dan ojek online,’’ katanya.

Dari situ, Erma dan tim berupaya membuat teknologi informasi melalui aplikasi Intravtas. Dengan memanfaatkan model simulasi serta information and communication technologies (ICT), tim merancang aplikasi yang bisa mendeteksi keberadaan pengguna angkot, memonitor ketersediaan angkutan umum, dan memberikan navigasi lalu lintas. Aplikasi tersebut memanfaatkan sistem GPS (global positioning system) dan Maps atau peta.

’’Konsentrasi kami meningkatkan kenyamanan penggunaan transportasi umum,’’ ujar wakil dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) ITS itu.

Erma menambahkan, selama ini banyak yang enggan menggunakan angkutan umum. Alasannya pun kompleks. Mulai kenyamanan angkutan umum yang kurang hingga waktu kedatangan yang tidak pasti. Sebab, selama ini angkot kerap menunggu penumpang penuh baru bisa jalan atau beroperasi ke tujuan berikutnya. ’’Jadi dianggap kurang efisien dan membuang waktu,’’ katanya.

Karena itu, dengan aplikasi Intravtas, masyarakat lebih mudah memprediksi waktu sehingga dapat meningkatkan atensi user dalam menggunakan transportasi umum. ’’Aplikasi ini disediakan untuk user dan driver,’’ jelasnya.

Erma menjelaskan, aplikasi tersebut bekerja dua arah dan tersedia dua pilihan untuk user (penumpang) dan sopir angkutan umum (driver). Pada Intravtas user, calon penumpang bisa mengidentifikasi lokasi terkini angkutan umum terdekat. Dengan begitu, penumpang tidak harus menunggu tanpa kepastian di pinggir jalan.

Intravtas driver memudahkan sopir untuk mengetahui keberadaan penumpang. Dengan begitu, sopir tidak perlu lagi menunggu penuh di satu titik tanpa kepastian. ’’Lebih efektif dan menguntungkan penumpang serta sopir,’’ paparnya.

Menurut Erma, aplikasi tersebut sangat memudahkan penumpang dalam memonitor ketersediaan angkutan umum. Begitu juga sopir dalam memantau keberadaan penumpang. Hal itu dapat memberdayakan driver angkutan umum agar tidak terjadi penurunan penumpang. ’’Angkutan umum terus berkembang. Bisa meningkatkan nilai pengguna angkutan umum dan driver,’’ jelasnya.

Bahkan, aplikasi tersebut bisa menjadi salah satu solusi mengurangi kemacetan di Surabaya. Masyarakat yang kini lebih suka menggunakan kendaraan pribadi bisa beralih ke transportasi umum. Dalam hal ini angkot atau lin maupun bus kota.

’’Selain lebih murah, masyarakat pengguna angkutan umum jadi lebih meningkat. Selain mengurangi macet, mengurangi gas emisi yang banyak dihasilkan asap kendaraan,’’ ucapnya.

Erma menjelaskan, cara kerja aplikasi Intravtas cukup mudah. User dan driver hanya perlu instal software-nya saja. Kemudian, user tinggal memilih ikon halte dan angkutan umum.

Sementara itu, yang memerlukan registrasi hanya sopir angkot. ”Pengisian regsitrasi hanya terkait pelat nomor dan rute angkot,” katanya.

Aplikasi Intravtas mulai dikembangkan pada 2018. Awalnya, aplikasi itu menyasar angkutan umum lin dan bus kota. Dua angkutan umum tersebut mendukung terwujudnya tiga poin yang menjadi tujuan aplikasi itu. Yakni, economic sustainability, membuat arus transportasi Surabaya menjadi lebih efektif dan efisien.

Kemudian, social sustainability yang dapat menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Sebab, biaya angkutan umum lebih terjangkau dan rute angkutan umum luas. Selain itu, environmental sustainability. ’’Dapat mengurangi emisi karbondioksida (CO2) seiring berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi,’’ tambahnya.

Kemudian, pada 2019 aplikasi tersebut juga disosialisasikan ke Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya sebagai mitra dalam penelitian tersebut. Juga, perwakilan pengguna dan pengemudi angkutan umum Surabaya yang bekerja sama dengan Dishub Surabaya. ’’Harapannya, mitra kami ini bisa membantu mengimplementasikan aplikasi ini,’’ tuturnya.

Erma menuturkan, dishub pun telah merespons positif terkait aplikasi tersebut. Beberapa masukan dari dishub sudah ditampung. Hanya ada beberapa kendala di lapangan. Salah satunya terkait dengan kondisi saat ini yang masih banyak driver yang tidak memiliki handphone sesuai spesifikasi.

’’Ke depan kami diharapkan ada kerja sama antara ITS dan dishub, Google (sebagai penyedia layanan API), serta provider telekomunikasi agar penggunaan aplikasi ini lebih mudah. Khususnya bagi driver angkutan umum,’’ jelasnya.

Saat ini Erma dan tim mengembangkan lagi aplikasi Intravtas. Jadi, penggunaan aplikasi tersebut bisa lebih luas dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. ’’Aplikasi ini diharapkan dapat membantu pemkot untuk mengurangi kemacetan,’’ katanya. (JP)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close