Riwayat

TB Simatupang, Tentara Intelektual dan Jenderal Pemikir

FaseBerita.ID – Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar (TB) Simatupang lahir di Sidikalang, Kabupaten Dairi, pada tanggal 28 Januari 1920. Ia merupakan anak kedua dari delapan putra-putri pasangan suami-istri Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang dan Mina Boru Sibutar.

Ayahnya bekerja sebagai pegawai pemerintah, dan sering berpindah tempat tugas dari Sidikalang pindah ke Siborong-borong, kemudian ke Pematang Siantar.

TB Simatupang mengikuti pendidikan umum ditiga tempat yang berbeda. Di Pematang Siantar ia memasuki sekolah tingkat dasar, Hollands Inlandsche School (HIS) pemerintah. Tamat dari sekolah ini, tahun 1934, ia mengikuti pendidikan di sekolah yang berada di bawah asuhan Zending, yakni Christelijke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO Kristen) di Tarutung dan Christelijke Algemene Middelbare School (AMS Kristen) di Jakarta.

Tahi Bonar Simatupang muda sebetulnya ingin jadi dokter. Dia berangan-angan hendak menjadi tenaga medis di rumah sakit gereja. Tapi di tengah jalan, cita-citanya berubah. Di zaman perang, lowongan penerimaan taruna di Koninklijk Militaire Academie (KMA) alias Akademi Militer Kerajaan Belanda dibuka di Bandung.

Peluang orang Indonesia untuk diterima terbuka di situ. Lulusannya akan menjadi perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Gaji seorang perwira tentu saja lumayan. TB Simatupang pergi mendaftar. Setelah melewati rangkaian seleksi selama sembilan bulan, dia diterima untuk belajar di akademi militer pertama di Indonesia itu.

Beberapa orang Indonesia lain juga ada di sana. Dengan memasuki KMA Bandung, TB Simatupang tercatat sebagai taruna Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO). Ia memilih kecabangan zeni dengan perhitungan bahwa pengetahuan di bidang ini akan tetap berguna seandainya ia diberhentikan dari dinas militer.

“Saya memilih ini. Pilihan itu pada satu pihak oleh karena saya memenuhi syarat yang diterima di bagian zeni, yaitu angka-angka yang lumayan (tinggi) dalam pelajaran eksakta,” ungkap TB Simatupang dalam bukunya ‘Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos (1991: 84)’. TB Simatupang sebenarnya ragu jika ia bakal selamanya di KNIL.

Baginya, “perwira zeni mempunyai pengetahuan yang menyerupai pengetahuan insinyur (sipil).” Di masa damai, pengalaman jadi perwira zeni lebih memungkinkannya bekerja di bidang teknik sipil. Hanya ada 10 orang di kelas zeni, termasuk dia (TB Simatupang).

Beberapa mata kuliah harus diambil dengan ikut kelas di Technische Hogeschool (kini Institut Teknologi Bandung). Dari asrama, dia dan taruna zeni lain harus naik sepeda menuju kampus teknik pertama di Indonesia itu.

Perang Dunia II yang berkobar di Eropa, merembet pula ke Asia, dimulai dengan serangan Jepang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Desember 1941. Pemerintah Hindia Belanda pun mengumumkan perang terhadap Jepang.

Dalam rangka perang itu, Sersan TB Simatupang ditugasi di bagian perhubungan Resimen 1 KNIL di Jakarta. Pada waktu Jepang menduduki Jakarta, ia ditangkap dan ditahan di Sukabumi.

Setelah bebas dari tahanan Jepang, TB Simatupang mengadakan perjalanan ke berbagai tempat untuk mengetahui aspirasi yang berkembang di lingkungan masyarakat sehubungan dengan perubahan situasi.

Dengan mantan Mayor KNIL Oerip Soemohardjo di Yogya, ia membicarakan kemungkinan yang dapat dilakukan oleh bekas KNIL. Namun, yang cukup menentukan ialah pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta. Dari pembicaraan dengan tokoh anti Jepang ini, ia mendapat keyakinan bahwa kekuasaan Jepang tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan untuk menghadapi situasi pascaperang. Pada masa ini, melalui bacaan berbagai buku, ia mulai mendalami masalah-masalah perang dan revolusi.

Ketika kondisi kesehatan Panglima Besar Sudirman memburuk, TB Simatupang dijadikan pelaksana tugas Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP).

Pangkatnya Kolonel dan usia baru 29. Setelah pengakuan kedaulatan dan Sudirman meninggal dunia pada 29 januari 1950, TB Simatupang tak lagi jadi pelaksana tugas, melainkan menjadi KSAP.

Sementara itu, Nasution diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ketika menjadi KSAP, TB Simatupang juga menjadi Ketua Gabungan Kepala-kepala Staf (GKS). Mula-mula pangkatnya kolonel, namun belakangan menjadi mayor jenderal.

Setelah tak lagi berkegiatan di bidang militer dan pemerintahan, TB Simatupang dikenal aktif di dunia gereja dan pekabaran injil.

Sudah tentu dia mulai insyaf akan pentingnya teologi dalam memandang banyak masalah-masalah dunia. Jenderal pintar ini pernah menjadi Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Ia juga dikenal sebagai penulis. Salah satu karyanya adalah Laporan Dari Banaran (1961), sebuah catatan perjalanan gerilya setelah Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948. Tahi Bonar Simatupang meninggal dunia tepat di perayaan tahun baru 1990. Namanya dikenang sebagai seorang tentara intelektual dan jenderal pemikir. (tid)