Riwayat

Siattar, Nama Asli Kota Siantar

PEMATANGSIANTAR merupakan perpaduan dari dua kata yaitu kata Pematang dan Siantar. Kedua kata ini tidak pula dapat dipastikan berasal kata dari bahasa Batak sekarang, tetapi lebih jauh berasal dari kata melayu kuno yang sudah diadopsi dalam kosa kata sehari-hari dalam bahasa batak pesisir khususnya di daerah Simalungun.

Diabad 20 sekarang, bila ada orang mengatakan kata ‘Siantar’ maka akan terkenang atau mengingatkannya pada suatu kota yang terkenal keras dan premanis, serta banyak jawaranya. Padahal dari Kota Siantar ini sangat banyak menghasilkan manusia-manusia yang berhasil, bahkan sudahpun ada yang sampai menjadi pemimpin negara tercinta ini.

Masyarakat di Pematangsiantar memang mempunyai heterogen yang sangat banyak, berbagai suku, agama dan budaya ada terdapat disana. Hal ini yang pada masa lalu membuat masing-masing masyarakat yang ada dalam mempertahankan identitas dirinya masing-masing terutama disaat adanya interaksi dapat menimbulkan perselisihan yang tajam. Keadaan demikian tentu tidak menghidarkan masyarakat tersebut untuk saling curiga dan mudah tersinggung, bahkan terjadi perkelahian.

Dalam mencari rezeki dipusat kota atau dipasar, hal itupun akan menjadi sesuatu yang laten untuk saling melindungi golongannya. Syukurlah, dari pembangunan yang dilakukan pemerintah telah memberikan kesadaran akan perlunya saling toleransi dan saling menghormati di semua aspek, membuat hal-hal yang jelek ada dahulunya sudah mulai terkikis.

Masyarakat Pematangsiantar sudah sibuk membangun dirinya masing-masing, terutama adanya patron yang ditiru dari putra-putri asal Pematangsiantar yang telah berhasil di bidang pendidikannya maupun karir. Masyarakat disana sangat suka dan berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya sampai setingi-tingginya.

Di saat sekarang ini, di Kota Pematangsiantar yaitu kota yang terletak di Sumatera Utara, dan menjadi kota kedua terbesar setelah Kota Medan, memiliki masyarakat yang terdiri dari beragam suku, agama, tetapi masyarakatnya telah mampu untuk tetap solid dan saling menghargai. Tak banyak orang tahu asal muasal nama daerah ini, apalagi generasi muda sekarang (tahun 2019) sudah tidak tertarik mempelajari lebih jauh tentang budaya. Hanya segelintir orang, sesepuh atau budayawan atau pelaku sejarah saja yang tertarik mempelajari sejarah wisata daerah ini.

Nama asli Kota Siantar disebut Siattar dan masih terkait dengan kerajaan di Simalungun yaitu yang dikenal orang dengan Raja Jumorlang dan Datu Bolon. Nama Pematang Siantar tersebut diawali dari cerita kedua tokoh ini, yang mana keduanya memiliki kesaktian mandraguna dan saling mengadu kesaktiannya.

Di suatu hari kedua tokoh ini mengadakan pertandingan kesaktian dan bagi pemenangnya akan mendapatkan “hadiah” yaitu berbentuk tanah atau wilayah dan harta benda, serta istri orang yang telah dikalahkan. Adu tanding kesaktian dikala itu sudah biasa dilakukan, namun pertandingan antara Raja Jumorlang dengan Datu Bolon dinilai sangat luar biasa karena kesaktian mereka sangat tersohor, sehingga masyarakat jadi penasaran dan ingin segerah tahu siapa yang menjadi pemenangnya. Adu kesaktianpun berlangsung di Bukit Parbijaan di Pulau Holong. Tak diduga dalam adu kesaktian itu dimenangkan oleh Datu Bolon, sedangkan Raja Jumorlang kalah, tetapi secara kesatria, kedudukan Raja Jumorlang berpindah kepada Datu Bolon.

Begitu hebatnya ilmu yang dimiliki Datu Bolon, setelah memenangkan pertandingan itu, diapun merubah namanya menjadi Raja Namartuah. Raja Namartuah atau Datu Bolon akhirnya mengawini bekas permaisuri dari Raja Jumorlang dan posisinya tetap sebagai permaisuri (Puanbolon). Dari keturunan ini kelak akan menjadi penerus kerajaan Siattar, sedangkan anak dari Raja Jumorlang oleh Raja Namartuah dijadikan anak tiri.

Asal mula nama Siattar itu berasal dari nama sebidang tanah di “attaran” pada Pulau Holong. Dalam bahasa Simalungun “attar” ditambah akhiran an artinya kata unjuk untuk sebuah wilayah (areal tanah). Lama kelamaan akhiran an ini berubah menjadi awalan “si”. Sementara awalan “si” dalam bahasa Simalungun dipakai untuk sebuah kata tempat dan benda. Setelah digabung, akhirnya kata-kata itu menjadi nama sebuah perkampungan.

Lama kelamaan daerah ini makin padat penduduknya dan warga pendatang juga terus bertambah. Sedangkan kata Pematang berasal dan berartikan parhutaan atau perkampungan. Dulu Raja yang berkuasa di Siattar tinggal di Rumah Bolon atau Huta, dan dari keadaan demikian inilah muncul ide tempat tinggal raja disebut pematang.

Sehingga jika digabungkan nama itu menjadi Pematang Siantar artinya Istana Raja Siattar. Sebelum mengalahkan Raja Jumorlang, Datu Bolon atau Raja Namartuah di kala itu sudah memiliki daerah kekuasaan yakni kerajaan Sipolha. Lama kelamaan kerajaan itu digabungkan ke dalam suatu pusat pemerintahan di Siattar. Uniknya, dalam adat Simalungun, Partuanon Sipolha berkedudukan sebagai Tuan Kaha dan mempunyai hak menobatkan Raja Siattar. Pertanyaannya, mengapa Partuanon Sipolha justru bertindak menjadi tuan ‘kaha’ dari pada Raja Siantar?

Bila kita pergi ke Sipolha, maka disana akan terdapat suatu Huta bernama Huta Mula dan tempat tersebut didiami oleh Raja Malau. Generasi Malau Raja yang merantau ke Sipolha kemudian membangun daerah kekuasaanya disana dan tak bisa dipungkiri, bahwa keturunan Malau Raja tersebut datang bersama-sama dengan keturunan dari Silau Raja lainnya yaitu Manik Raja, Ambarita Raja maupun Gurning Raja.

Malau Raja sebagai anak tertua dari keturunan Silau Raja harus bertindak sebagai kakak tertua bagi adik-adiknya yang lain dan tak terkecuali untuk wilayah Sipolha tersebut. Di Sipolha, khususnya di Huta Mula, maka yang menjadi penguasa kerajaan adalah bermarga Malau. Oleh sebab itu, di dalam Kerajaan Siattar akhirnya dibagi dalam lima (5) partuanon dan satu parbapaan yaitu:

1. Partuanon Nagahuta.
2. Partuanon Sipolha.
3. Partuanon Marihat.
4. Partuanon Sidamanik.
5. Partuanon Bandar Tungkat.

Sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Pematangsiantar merupakan daerah kerajaan Siantar. Pematangsiantar yang berkedudukan di Pulau Holing, dan raja terakhir dari dinasti keturunan marga Damanik yaitu Tuan Sangnawaluh Damanik, yang memegang kekuasan sebagai raja tahun 1906. Di sekitar Pulau Holing, kemudian berkembang menjadi perkampungan tempat tinggal penduduk di antaranya Kampung Suhi Haluan, Siantar Kahean, Pantoan, Suhi Bah Bosar, dan Tomuan. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi daerah hukum Kota Pematangsiantar yaitu:

1. Pulau Holing menjadi Kampung Pematang.
2. Siantar Bayu menjadi Kampung Pusat Kota.
3. Suhi Kahean menjadi Kampung Sipinggol-pinggol, Kampung Melayu, Martoba, Sukadame dan Bane.
4. Suhi Bah Bosar menjadi Kampung Kristen, Karo, Tomuan, Pantoan, Toba dan Martimbang.

Setelah Belanda memamusuki daerah Sumatera Utara, Simalungun menjadi Daerah kekuasaan Belanda, sehingga pada tahun 1907 berakhirlah kekuasaan raja-raja. Controleur Belanda yang semula berkedudukan di Perdagangan pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar. Sejak itu, Pematangsiantar berkembang menjadi daerah yang banyak dikunjungi pendatang baru, bangsa Cina mendiami kawasan Tiombang Galung (biasa disebut Timbang Galung), dan Kampung Melayu. Pada tahun 1910 didirikan Badan Persiapan Kota Pematangsiantar.

Kemudian pada tanggal 1 Juli 1917 berdasarkan Stad Blad No.285 Pematangsiantar berubah menjadi Geemente yang mempunyai otonomi sendiri. Sejak Januari 1939 berdasarkan Stad Blad No.717 berubah menjadi Geemente yang mempunyai Dewan. Pada zaman Jepang berubah menjadi Siantar Estate dan dewan dihapus.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Pematangsiantar kembali menjadi daerah Otonomi. Berdasarkan UU No.22/1948, status geemente menjadi kota Kabupaten Simalungun, dan walikota dirangkap oleh Bupati Simalungun sampai 1957. Berdasarkan UU No1/1957 berubah menjadi Kota Praja penuh dan dengan keluarnya UU No.18/1965 berubah menjadi Kotamadya, dan dengan keluarnya UU No.5/1974 tentang pokok-pokok pemerintah di daerah berubah menjadi daerah tingkat II Pematangsiantar sampai sekarang. (int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button