Riwayat

Sejarah Munculnya Aek Sipitu Dai (Air 7 Rasa)

Antara Kehausan dan Pencarian Pariban

FaseBerita.ID – Munculnya Air tujuh rasa (aek sipitu dai) bermulai dari sebuah kisah Ompung Langgat Limbong yang mana adalah generasi ke dua dari marga Limbong, saat itu sedang mengalami kesusahan. Ia sedang dilanda kehausan yang luar biasa, dan malangnya dia sangat sulit untuk menemukan air.

Ia terus mencari mata air ke sana kemari, namun tidak kunjung satu pun yang menghasilkan air. Ompung Langgat Limbong telah mencapai batasan kehausan dan kelelahannya, hingga akhirnya ia berhenti di suatu tempat, lalu ia berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar ia bisa diberikan pertolongan.

Setelah ia berdoa lantas ia menancapkan sebuah tongkat ke permukaan tanah berkali-kali hingga tujuh kali banyaknya. Dan tak lama kemudian, lubang bekas tancapan tongkat dari sang Ompung Langgat Limbong mengeluarkan air. Luar biasanya, air yang keluar dari setiap lubang memiliki rasa yang berbeda. Namun, cerita ini berbeda dari kisah yang disampaikan oleh Santun Sagala (39), petugas Pariwisata Samosir yang menjaga cagar budaya ini.

Menurutnya, mata air yang berada persis di kaki bukit Pusuk Buhit ini adalah karya alam. Sagala menyebut, jika air tersebut pertama kali ditemukan oleh Siboru Pareme, generasi ke tiga dari silsilah Si Raja Batak. Si Raja Batak sendiri memiliki dua keturunan yakni, Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Oleh Si Raja Batak, Pusuk Buhit yang juga diyakini tempat lahirnya Si Raja Batak, dibagi Pusuk Buhit menjadi dua bagian. Satu bagian menjadi milik Raja Tatea Bulan, termasuk lokasi Aek Sipitu Dai, sedangkan sebagian lagi menjadi milik Raja Isumbaon.

Kemudian, Raja Tatea Bulan memiliki 10 keturunan. Kelima putranya bernama Siraja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Silau Raja. Sedangkan lima putrinya bernama Sibiding Laut, Siboru Pareme, Pinta Haumasan, Pungga Haumasan dan Nantinjo. Saribu Raja dan Siboru Pareme diyakini adalah saudara kembar.

Semasa hidupnya, Saribu Raja sendiri diyakini adalah seorang seorang seniman. Melihat pekerjaan saudaranya yang terbilang santai dan hanya duduk di satu tempat, maka Si Boru Pareme selalu menjadi pelayannya, menyediakan makanan dan minumannya.



Pascasarjana

Unefa
1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button