Riwayat

Kiras Bangun Pahlawan dari Karo

SIMPATI masyarakat tidak terbatas di kawasan Tanah Karo saja, melainkan meluas sampai ke daerah tetangga seperti: Tanah Pinem Dairi, Singkil Aceh Selatan, Alas Gayo Aceh Tenggara, Langkat dan Deli Serdang.

Hubungan dengan daerah-daerah tersebut terpelihara serasi, terlebih lagi kegigihan perlawanan rakyat Aceh Selatan dan Aceh Tenggara, terhadap penjajah Belanda dikagumi dan dipantau secara berlanjut.

Pada tahun 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu di Langkat dan sekitar Binjai, membuka perkebunan tembakau dan karet.

Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Tanah Karo dengan alasan tanah di sekitar Binjai sudah habis ditanami. Tanah Karo telah diketahui Belanda, karena kerbau sebagai penarik kereta keperluan perkebunan diperoleh dari Tanah Karo.

Di samping itu, Binjai pada waktu itu telah menjadi kota yang didiami tuan-tuan kebun Belanda dimana banyak didatangi orang-orang Karo dari Karo Tinggi, dan ada di antaranya sebagai pekerja kebun maupun mandor.

Kiras Bangun lahir di Batukarang sekitar tahun 1852. Penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik.

Masyarakat menamakan beliau Garamata yang bermakna “Mata Merah”.

Masa mudanya, ia sering pergi dari satu kampung ke kampung lain dalam rangkaian kunjungan kekeluargaan untuk terwujudnya ikatan kekerabatan warga Merga Silima, serta terpeliharanya norma-norma adat budaya Karo dengan baik.

Pemerintahan yang ada pada masa itu disebut pemerintahan Urung dan Kampung yang berdiri sendiri (otonomi).

Jalannya roda pemerintahan dititikberatkan pada norma-norma adat.



Pascasarjana

Unefa
1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button