Riwayat

Jenderal Besar AH Nasution, Pahlawan Nasional Asal Sumut

AH Nasution adalah satu dari tiga Jenderal Besar di Indonesia selain Jend. Sudirman dan mantan presiden Jend. Soeharto. Beliau merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean.

Pada saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI. AH Nasution juga pernah diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia.

Sebagai seorang pakar militer, AH Nasution sangat dikenal sebagai ahli  perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Fundamentals of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point Amerika Serikat. Jejak perjuangan beliau diabadikan dalam museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR AH Nasution di jalan Teuku Umar No. 40 Jakarta.

Selain telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dengan judul Fundamentals of Guerrilla Warfare. Buku ini telah menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah Negara. Termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.

“Gerilya” merupakan terjemahan dari bahasa Spanyol”guerrilla” yang secara harafiah berarti “perang kecil”. Taktik ini diyakini pertama kali dilontarkan oleh ahli militer Cina, Sun Tzu yang hidup sekitar 2000 tahun yang lalu.

Ide dasarnya adalah menggunakan segala kekuatan (sumber daya) untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat. Oleh Jenderal AH Nasution, taktik ini kemudian diadaptasi untuk diterapkan dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam buku ini, AH Nasution menulis, “Perang gerilya adalah perang rakyat semesta”. Seperti yang diramalkan oleh Nasution, di masa-masa mendatang (seperti juga di masa lalu), kita mungkin masih menggantungkan pertahanan dan keutuhan negara ini pada strategi perang gerilya. Di mana syarat utama keberhasilannya terletak pada kekompakan serta rasa saling percaya antara militer dan rakyat.

Sekilas profil Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution, ia lahir 3 Desember 1918 di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara (Dulu, Tapanuli Selatan). Ayahnya bernama H Abdul Halim Nasution dan Ibunya Hj Zaharah Lubis. Karier militernya dimulai tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia.

Dua tahun kemudian, ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eksPETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Lalu Mei 1946, ia dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi.

Pada Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jenderal Sudirman). Sebulan kemudian ia ditunjuk menjadi Kepala staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI. Nasution dianugerahi pangkat jenderal besar bintang Lima. Ia tutup usia di RS Gatot Soebroto pada 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Jenderal AH Nasution dikenal sebagai konseptor perang gerilya dan dwifungsi ABRI. Ia merupakan sosok yang taat beribadah, jujur, bersih, sederhana dan santun. Juga dikenal sebagai jenderal yang memegang teguh kebenaran serta berani menyuarakannya meskipun berseberangan dengan presiden. Seperti yang ditunjukkannya kepada Presiden Soekarno pada peristiwa 17 Oktober 1952.

Jenderal AH Nasution pernah tak kuasa menahan air matanya ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi, korban kebiadaban Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30S-PKI) awal Oktober 1965.

Ketika Jepang takluk tanpa syarat kepada Sekutu dan PETA dibubarkan, AH Nasution berhasil menyatukan para pemuda bekas anggota PETAdan KNIL dan mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Karier militernya terus melejit hingga tahun 1946 dipercaya menjadi Panglima Divisi III/Priangan dan kemudian menjadi Panglima Divisi Siliwangi pada bulan Mei 1946. Karier AH Nasution terus naik. Februari 1948, AH Nasution menjadi orang kedua setelah Jenderal Soedirman dalam dinas ketentaraan dengan jabatan Wakil Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Jabatan itu dihapuskan sebulan kemudian dan Nasution ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Selanjutnya, ia ditunjuk sebagai Panglima Komando Jawa.

Sebuah jabatan yang sangat tinggi dalam strata militer untuk seusia 30 tahun, usia Nasution ketika memangkunya. Pada usia 31 tahun, AH Nasution naik tahta menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). AH Nasution lahir di Kotanopan, Mandailing Natal, 3 Desember 1918, dan wafat di Jakarta, 6 September 2000. (sn/dj)

USI