Riwayat

Ferdinand Lumban Tobing, Orang Batak Kedua Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

“Dr Ferdinand Lumban Tobing dapat kain pelikat. Memang, meskipun dia seorang Kristen, simbolnya ialah sarung. Hatinya tetap Indonesia dan Batak sehingga tetap dicintai orang di Tapanuli, walaupun oleh rakyat yang beragama Islam,” gumam tokoh Islam yang kelak menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama ini (Hamka) Di periode 1953-1955, FL Tobing menjabat sebagai Menteri Kesehatan, sesuai keahliannya di bidang kedokteran. Wakil Nasrani di kabinet usai Jepang hengkang pada 1945.

Karier politik FL Tobing memang kian mantap. Dari Syu Sangi Kai dan Chuo Sangi In, ia diangkat sebagai Residen Tapanuli pertama setelah Indonesia merdeka, selanjutnya menjadi Gubernur Militer Tapanuli/Sumatera Utara hingga Januari 1950 atau setelah penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda secara penuh.

Selain Menteri Kesehatan, FL Tobing juga pernah mengisi posisi sebagai Menteri Penerangan (30 Juli 1953 hingga 12 Agustus 1955), serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (9 April 1957 sampai 10 Juli 1959).

Meski pamornya tidak sementereng para pendiri republik lainnya, namun nama FL Tobing sangat bermakna bagi masyarakat Batak. Ia orang Batak kedua yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI setelah Sisingamangaraja XII, Raja Negeri Toba yang melegenda itu. Presiden Sukarno menetapkan Sisingamangaraja XII (1849-1907) sebagai pahlawan nasional pada 9 November 1961, sementara FL Tobing memperoleh gelar serupa kurang lebih setahun kemudian, tepatnya tanggal 17 November 1962.

Ferdinand Lumban Tobing wafat di Jakarta dalam usia 63 tahun. Jasadnya dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan namanya FL Tobing, diabadikan sebagai nama bandar udara di Pinangsori, Tapanuli Tengah. FL Tobing adalah seorang Batak tulen, Kristen pula, namun teramat dicintai oleh segenap rakyat Sumatera Utara yang pernah merasakan kepemimpinannya, termasuk umat Islam di dalamnya, persis seperti kesan yang pernah digumamkan oleh sang ulama besar, Buya Hamka. (ws/tid)



Laman sebelumnya 1 2 3 4