Riwayat

Ferdinand Lumban Tobing, Orang Batak Kedua Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

Ketika Jepang sedang mencari-cari cara yang paling tepat untuk membunuhnya, sang dokter justru berperan sebagai penyelamat. Suatu kali, ada perwira polisi Jepang yang mengalami kecelakaan mobil, kondisinya amat parah.

FL Tobing lantas menawarkan diri untuk merawat si korban yang tengah berjuang lolos dari maut itu. Di bawah penanganan FL Tobing, keadaan polisi itu mulai membaik, bahkan berangsur-angsur pulih. Hal itu membuat sikap orang-orang Jepang yang semula membenci, bahkan berniat membunuhnya, berbalik hormat kepada FL Tobing. Mereka pun berterima kasih.

Atas jasanya itu, ia ditunjuk menjadi Ketua Syu Sangi Kai semacam Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk Karesidenan Tapanuli pada November 1943. Bahkan, ia kemudian diangkat sebagai anggota Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat), bersama tokoh-tokoh lokal terkemuka macam Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagus Hadikusumo, dan lainnya.

Ketika sinyal kekalahan Jepang di Perang Asia Timur Raya semakin terlihat seiring menguatnya Sekutu, Gunseikan selaku kepala pemerintahan militer tertinggi Dai Nippon di Indonesia, mengundang tokoh-tokoh penting dari kalangan orang Indonesia untuk menghadiri pesta kebun di Bukittinggi, Sumatera Barat. Acara ini digelar untuk memikat hati para tokoh-tokoh pribumi.

Mereka yang diundang adalah orang-orang berpengaruh, baik tokoh masyarakat maupun agama, juga pejabat lokal. FL Tobing termasuk di dalamnya. Pembagian hadiah, semacam lotere atau door prize, menjadi acara puncak dalam pesta kebun itu. FL Tobing ternyata beruntung, ia dapat hadiah berupa sarung.

Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka, tokoh Islam yang turut hadir, sampai terheran-heran melihat FL Tobing sangat bahagia menerima hadiah sarung yang kerap diidentikkan sebagai perlengkapan ibadah untuk muslim itu. Hamka tahu betul kalau dokter Batak itu adalah penganut Kristen taat.



Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya