Riwayat

Ferdinand Lumban Tobing, Orang Batak Kedua Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

FL Tobing sempat pula bertugas di Padang Sidempuan, Surabaya, Tenggarong, juga Batavia. Ia adalah lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA, kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), sekolah kedokteran bumiputera di Batavia, dan sempat bekerja di Central Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) atau yang sekarang menjadi Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo, Jakarta.

Menjadi Target Pembunuhan

FL Tobing barangkali mengira kedatangan Jepang akan mendatangkan perubahan yang baik. Ternyata tidak. Jepang rupanya bisa sangat kejam, bahkan dibandingkan era kolonial Hindia Belanda yang pernah dialaminya. Tak lama setelah Dai Nippon datang, FL Tobing ditugaskan sebagai dokter pengawas kesehatan bagi romusha, kaum pribumi yang dipekerjakan paksa, termasuk membangun benteng di Teluk Sibolga.

Ia melihat sendiri penderitaan saudara-saudara se tanah-airnya dipaksa bekerja untuk kepentingan penjajah. Belum lagi perlakuan kejam tentara Jepang.

FL Tobing kerap mendapati para pekerja yang badannya hanya tinggal menyisakan kulit pembalut tulang saja, dan terus diperlakukan sewenang-wenang. Dr Ferdinand Lumban Tobing tidak tahan berlama-lama melihat kondisi tersebut.

Ia pun memberanikan diri mengajukan protes kepada petinggi Jepang yang berwenang di situ. Tak hanya sekali-dua kali FL Tobing bersuara keras setiap melihat tindak kekejian serdadu Jepang terhadap para pekerja. Namun, ia tidak pernah digubris.

Pihak Jepang lama-kelamaan terusik juga dengan FL Tobing yang terus saja berisik. Namun mereka tidak bisa menindaknya secara terang-terangan mengingat ia berstatus tenaga medis. Maka itu, Jepang memasukkan namanya ke dalam daftar target orang yang wajib dihabisi, kendati tidak akan dilakukan dengan cara frontal. Nasib mujur rupanya masih menaungi FL Tobing.



Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya