Riwayat

Cut Nyak Dien, Pahlawan Wanita yang Sangat Ditakuti Belanda

Cut Nyak Dien memulai perlawanan terhadap penjajahan Belanda setelah kematian suaminya pada 1878, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, dalam pertempuran. Kematian suaminya membuatnya marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Wanita kelahiran 1848 ini kemudian bersedia menikah dengan Teuku Umar, tokoh perjuangan Aceh, karena memperbolehkan Cut Nyak Dien berperang. Cut Nyak Dien dan Teuku Umar melancarkan perang melawan Belanda secara gerilya. Mereka berhasil menekan Belanda dan menyerang Banda Aceh (Kutaraja), dan Meulaboh. Akibatnya, Belanda terus menerus mengganti jenderal yang bertugas.

Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan wanita yang sangat ditakuti oleh penjajah Belanda, beliau lahir di Lampadang, Aceh, tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia yang merupakan golongan bangsawan Aceh, keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minang Kabau yang juga merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta.

Ia adalah seorang perwakilan kesultanan Aceh pada pada masa pemerintahan Iskandar Muda di Pariaman, ibunya adalah putri uleebalang Lampagar, Cut Nyak Dien adalah Pahlawan Nasional wanita yang berasal dari Aceh, ia dikenal sebagai perempuan yang sangat tangguh dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Pada masa hidupnya, ia memiliki dua orang suami. Suami pertamanya adalah Teuku Ibrahim Lamnga putra dari uleebalang Lam Nga, mereka menikah pada tahun 1862 ketika itu Cut Nyak Dien masih berumur 12 tahun.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, suaminya juga merupakan seorang pejuang yang sangat tangguh dalam melawan penjajah Belanda. Ia gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Gle Tarum pada tahun 29 Juni 1878. Setelah suaminya gugur, ia bertekad untuk meneruskan perjuangan suaminya.

Sepeninggal suaminya peperangan demi peperangan terus dilalui oleh Cut Nyak Dien dengan pasukannya, sampai akhirnya ia menikah lagi dengan seorang pejuang yang tidak kalah tangguhnya dalam melawan penjajah Belanda yaitu Teuku Umar, pada tahun 1980.

Dari pernikahan kedua pejuang tersebut membuat semangat baru bagi rakyat Aceh dalam meningkatkan perlawanan terhadap penjajah Belanda, dari penikahan tersebut mereka dikaruniai seorang putri perempuan yang dinamai Cut Gambang.

Teuku Umar dikenal dengan pejuang yang banyak Taktik dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda, Teuku Umar pernah melakukan pergerekan dengan mendekati Belanda sehingga hubungannya dengan Belanda sangat akrab, pihak Belanda sangat senang kepada Teuku Umar, karena pejuang yang sangat berbahaya ini mau membantu mereka, pihak Belanda berpikir Teuku Umar sungguh-sungguh kerja sama dengan mereka sampai-sampai mereka memberikan gelar Teuku Umar Johan pahlawan serta memberikan kekuasaan penuh kepada Teuku Umar dan menjadikannya komandan Unit pasukan Belanda.

Pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar berhasil disergap oleh pihak Belanda, dan Teuku Umar gugur di medan perang.

Hal tersebut tidak membuat Cut Nyak Dien patah semangat, Cut Nyak Dien terus memimpin perlawanan melawan Belanda, peperangan melawan Belanda terus dilalui oleh Cut Nyak Dien dengan pasukanya sampai pada titik terakhir pada tahun 1901, karena pasukan Cut Nyak Dien terus berkurang dan Cut Nyak Dien pun sudah semakin tua dan matanya mulai rabun. Cut Nyak Dien ditangkap Belanda di Beutong Lhee Sagoe.

Sebelum ditangkap Belanda, Cut Nyak Dien dan pasukannya juga sempat melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda, keberadaannya tersebut diketahui oleh Belanda karena anak buahnya bernama Pang Laot melaporkan markas meraka kepada pihak Belanda karena merasa iba dengan kondisi Cut Nyak Dien.

Putri Cut Nyak Dien yang bernama Cut Gambang berhasil melarikan diri dari gempuran pasukan Belanda. Cut Nyak Dien ditangkap dan dipindahkan ke Sumedang hingga meninggal pada 6 November 1908. (msn/st) 

Biodata Cut Nyak Dien
Nama : Cut Nyak Dhie
Lahir : Aceh Besar, 1848
Wafat : Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908
Orang Tua : Teuku Nanta Seutia
Suami : Ibrahim Lamnga, Teuku Umar
Anak : Cut Gambang

Biografi Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh. Tidak diketahui dengan jelas tanggal lahir dari Cut Nyak Dien. Tapi ia diketahui lahir pada tahun 1848. Cut Nyak Dien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848.

Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat.

Machmoed Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dien merupakan keturunan Minangkabau.

Masa Kecil
Ibu Cut Nyak Dien adalah putri uleebalang Lampagar. Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dien adalah anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya). Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dien dan berusaha melamarnya. (**)