Riwayat

Antara Jawa dan Bali

Hubungan Bali dan Jawa sempat mesra sebelum digempur oleh pasukan Majapahit.

Oleh: Risa Herdahita Putri

Negara ini terletak di timur Ka-ling (Jawa), sebelah barat Mi-li-ju. Sebelah utaranya berbatasan dengan lautan. Di sana padi berbuah setiap bulan. Budayanya hampir sama dengan Ka-ling. Mereka memiliki huruf yang mereka tulis di atas daun lontar.

Ketika seorang warganya meninggal dunia, mereka mengisi mulutnya dengan emas. Kaki dan tangannya dipakaikan gelang emas. Jenazahnya diberikan minyak kamper, kapur barus, dan minyak wangi lainnya. Setelahnya mereka menumpuk kayu, dan membakar jenazahnya.

Pada 647 raja mereka mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk membawa upeti yang berupa kain katun, gading gajah, dan cendana putih. Kaisar memberikan surat kekaisaran dan menghadiahkan berbagai barang.

Begitulah Bali diberitakan dalam catatan Tiongkok masa Dinasti Tang (618-906). Dalam Sejarah Lama Dinasti Tang, ia disebut dengan nama Dva-ba-dan. Letaknya di selatan Kamboja dan berjarak dua bulan perjalanan laut.
Dalam catatan Sejarah Dinasti Song (960-1279) utusan dari Jawa menyebut negara bernama Brahman. Negara ini disebut mereka sebagai negara tetangga.

Menurut W.P. Groeneveldt, negara yang disebut Brahman itu telah diidentifikasi sebagai Bali. “Menarik untuk diingat bahwa pada 992 ketika utusan Jawa mengunjungi Tiongkok, orang-orang Jawa menyebut pulau itu negara Brahman,” jelasnya.

Nama Brahman terus digunakan oleh orang-orang Tiongkok pada masa selanjutnya. Di sana mereka masih menemukan penganut Hindu, bahkan ketika orang Jawa sudah memeluk Islam.

Jika menurut catatan Tiongkok Bali sudah dipimpin raja, sistem birokrasi kerajaan baru terbukti dalam prasasti pertama kali pada abad ke-10. Sejarah politik dan kebudayaan Bali kemudian didominasi oleh dinasti yang terkenal dengan sebutan Warmadewa.

Keluarga raja-raja Warmadewa pertama kali muncul dalam sejarah pada 835 saka (913) dengan ditemukannya Prasasti Blanjong yang menyebutkan nama raja Cri Kesari Warmadewa. Ia diduga cakal bakal keluarga Warmadewa.

Prasasti itu berkisah, pada 835 Saka (913) bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di Keraton Singhadwala. Ia bernama Cri Kesari. Sang raja telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal.

Arkeolog Roedolf Goris dalam Prasasti Bali I berpendapat, yang dimaksud Gurun tak lain adalah Pulau Lombok. Sementara Swal harus dicari di luar Pulau Bali.

Pada sisi lainnya (sisi B), prasasti itu meyebut gelar raja yang lebih lengkap yaitu Adhipatih Cri Kesari Warmadewa. Menurut berita di sana, prasasti itu didirikan untuk memperingati kemenangan sang prabu atas seluruh Walidwipa (Pulau Bali).

Supratikno Raharjo dalam Sejarah Kebudayaan Bali: Kajian Perkembangan dan Dampak Pariwisata menulis, sejak itu raja-raja Bali pun nampaknya mulai menjalin hubungan dengan raja-raja Jawa, mulai dari kemiteraan sampai kekerabatan melalui perkawinan, terutama sejak awal abad ke-11.

Menurut arkeolog Universitas Udayana, Ida Bagus Sapta Jaya, dalam “Pemerintahan Keluarga Warmadewa di Bali Serta Hubungannya dengan Jawa Timur” yang terbit di Pusaka Budaya dan Nilai-nilai Religiusitas, hubungan antara keluarga Warmadewa dengan Jawa Timur telah dimulai sejak pemerintahan Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi pada 905 Saka (983).

Sapta Jaya menyebut sang ratu yang tak menyandang gelar Warmadewa menimbulkan banyak interpretasi. Salah satunya pendapat epigraf asal Prancis Louis Charles Damais yang mengatakan kalau sang ratu adalah putri Mpu Sindok, penguasa Medang pada periode Jawa Timur, yang bernama Sri Isanatunggawijaya.

Hubungan keluarga Warmadewa dengan Jawa Timur bertambah erat dengan adanya perkawinan antara Raja Udayana dan Mahendradatta. Ia adalah putri Raja Sri Makutawangsawarddhana, penerus kedua takhta Mpu Sindok.
“Setelah kawin keduanya memerintah di Bali,” tulis Sapta Jaya.

Kemudian, pada zaman pemerintahan Marakata (1022-1026), putra kedua Udayana, saudara kandungnya, Airlangga tengah berkuasa di Jawa Timur. Airlangga menikah dengan putri Dharmawangsa Thguh pada 1019. Ia dinobatkan menjadi raja Kahuripan menggantikan mertuanya.

“Ini lebih memperjelas lagi bahwa hubungan antara keluarga Warmadewa dengan Jawa Timur sangat erat,” jelas Sapta Jaya.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya hubungan keduanya berubah menjadi dominasi raja-raja Jawa atas raja-raja Bali. Bentuk paling nyata dari dominasi itu adalah ketika pada abad ke-14 Kerajaan Bali di Bedahulu ditaklukkan Majapahit. Gajah Mada dan Adityawarman yang memimpin tentara Majapahit menyerang Pulau Bali.

Sebagai pulau yang paling dekat dengan Jawa, menurut Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama, Bali merupakan wilayah pertama di luar Jawa yang ditaklukkan Majapahit setelah Gajah Mada mengumandangkan sumpahnya yang terkenal itu.

“Raja Bali yang hina dan jahat diperangi bala tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka dan pergi menjauh,” catat Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama. (int)

Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close