News

Wasnaker Akan Panggil PT Nagali

LABURA, FaseBerita.ID – Menindaklanjuti surat KC-FSPMI Kabupaten se-Labuhanbatu Raya atas pengaduan kecelakaan kerja yang dialami Suyati, UPT Pengawas Ketenagakerjaan Wilayah VII Sumut akan melakukan pemanggilan terhadap pihak PT Nagali Semangat Jaya.

UPT Pengawas Ketenagakerjaan Wilayah VII Sumut Iskandar melalui telepon selulernya mengatakan, pihaknya sudah menerima surat dari KC-FSPMI terkait pengaduan Suyati. “Saya sudah menerima surat pengaduannya dan akan menindaklanjutinya dan akan memanggil PT Nagali Semangat Jaya. Tentunya, pengawas tenaga kerja (Wasnaker)akan turun ke TKP dan mencari kebenaran informasi,” jelas Iskandar, Kamis (27/6/2019).

Lebih lanjut, Iskandar mengatakan jika memang benar kecelakaan kerja maka tentu pekerja tersebut harus mendapatkan hak-haknya. “Semua pekerja harus didaftarkan di BPJS, tanpa terkecuali. Tidak ada pembedaan,” jelasnya.

Terkait perusahaan yang tidak mendaftarkan pekerjanya ke BPJS, Iskandar mengatakan Wasnaker akan melakukan pemeriksaan. “Saya kan masih 1 tahun disini (Wasnaker Wil VII Sumut), jadi masih focus melakukan pembinaan dan kordinasi. Kita akan coba maksimalkan melakukan penertiban. Selama ini memang kurang beres, ini akan kita maksimalkan,” tambahnya.

Sebelumnya, kasus kecelakaan kerja yang dialami Sayuti (51), sepulang bekerja dari perkebunan PT Nagali Semangat Jaya pada tanggal 17 Juni 2019 lalu, kini dilaporkan ke UPT Pengawas Ketenagakerjaan Wilayah VII Sumut.

Informasi dihimpun dari Sayuti, seperti kebiasaannya sekitar sepuluh tahun terakhir, Senin 17 Juni 2019 Sayuti berangkat bekerja ke perkebunan PT Nagali Semangat Jaya. Bekerja seperti biasa, setelah pulang bekerja pukul 16.00WIB, suyati mengalami kecelakaan terjatuh dari sepeda motor. Akibatnya kaki sebelah kiri persis di bawah lutut mengalami robek 5 -6 cm karena terkena standard sepeda motor.

Setelah mengalami kejadian, anak korban melaporkan kecelakaan tersebut ke manager perusahaan yang saat itu disampaikan kepada Pargaulan Sitorus. “Nantilah itu, kutelepon dulu bos (pemilik perusahaan),” ungkap Suyati menirukan ucapan Pargaulan Sitorus.

Mendengar jawaban tersebut, Suyati hanya dapat menahankan sakit sembari memanggil bidan desa untuk mengobati. Bahkan Suyati mengaku belum terdaftar menjadi peserta BPJS ketenagakerjaan dan kesehatan.

Tak berhenti disitu, satu minggu kemudian tepatnya Senin 24 Juni 2019 anak korban kembali mendatangi manager tetapi juga tidak mendapat jawaban yang memuaskan. “Belum ada putusan, karena bos belum bisa di hubungi,” demikian balasan pihak perusahaan kepada Suyati.

Akibat tidak memiliki biaya berobat, sampai hari ini (26/6/2019) Suyati masih dirawat di rumahnya, tanpa dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit.

Sebelum kejadian 17 Juni, Suyati juga pernah mengalami kecelakaan kerja pada tanggal 30 Januari 2019. Suyati pernah terjatuh di lokasi kerja dan mengalami kelumpuhan badan sebelah dan dirawat di rumah sakit selama 5 hari. Dan selanjutnya tidak bisa bekerja sampai Maret. (tim/rah)