News

Warga Humbahas Krisis Air Bersih Beralih ke Sumur Bor

HUMBAHAS, FaseBerita.ID – Masyarakat di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mengaku resah, karena pasokan air bersih sudah setahun tidak mengalir. Alhasil, masyarakat beralih menggunakan sumur bor.

Keresahan itu disampaikan Charles Siambaton warga Jalan RSU dan Jalan Karya, Kelurahaan Pasar Dolok Sanggul, Kecamatan Dolok Sanggul, Rabu (8/1). Charles mengatakan, sudah setahun air bersih yang dikelola oleh pemerintah setempat tidak mengalir ke rumah penduduk.

“Kadang hidup seminggu, seterusnya tidak hidup. Kalaupun hidup, airnya sangat kecil, tidak sampai ke dalam rumah,” keluh Charles. Meski sudah setahun dikeluhkan, pemerintah memang merespon, namun hanya sebatas memperbaiki.

Itupun, lanjut dia, setelah diperbaiki, air yang masuk ke rumah bukannya bersih, melainkan keruh berwarna coklat. Menurut dia, akibat dari kondisi tersebut, masyarakat sekitar pun terpaksa merogoh uang sebesar Rp2 juta untuk beralih ke pemakaian air sumur bor.

“Daripada beli air galon tiap hari sampai habis Rp10 ribu hingga Rp 20 ribu, terpaksa masyarakat beralih ke sumur bor,” katanya. Selama ini, akibat kejadian itu, masyarakat sebelumnya mendapatkan pasokan air bersih dari air galon. Tiap hari, masyarakat harus merogoh uangnya Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

Air galon yang dibeli, mereka gunakan untuk memasak dan air minum. “ Terpaksa dari pada kita menggunakan air yang keruh,” katanya. Disinggung pernah disampaikan lagi ke pemerintah, Charles malah menyesalkan sikap Kepala UPT PAM Liston Silalahi.

Charles yang ingin menyampaikan keluhan itu, Liston sebagai Kepala UPT PAM terkesan tidak dalam menjawab keluhan warga. “ Saya harap, Bupati dapat mencopot Kepala UPT PAM, karen jawabanya tidak merakyat,” tandasnya.

Sementara, Kepala UPT PAM Humbang Hasundutan, Liston Silalahi membantah air di daerah itu mengalami krisis. Dia mengaku baru bulan Desember tahun 2018 lalu, air tidak mengalir. “Belum setahun, bulan 12 tidak berjalan, jadi gimana mau kita bilang,” kata dia saat dihubungi. Liston menjelaskan, persoalan air bersih di daerah itu, memang selalu menjadi permasalahaan. Dan itu sudah sering diperbaiki ketika ada keluhan masyarakat.

Menurut dia , permasalahaan itu dikarenakan pipa yang menyambungkan sumber airnya terletak di daerah Hutajulu Kecamatan Pollung, kerap pecah. Bahkan, untuk mengalir ke daerah Jalan RSU dan Jalan Karya, tidak langsung cepat, namun berproses lama sampai satu hari baru mengalir ke rumah penduduk. “ Bayangkan dari Hutajulu ke Hutaraja sampai setengah hari, ke kota sudah satu hari,” jelasnya.

Ironisnya, setelah mengalir sampai satu hari, sambung dia, pipa yang sambungan dari sumber air di Hutajulu, malah pecah. “ Tak sampai satu hari, pipa sudah pecah,” kata dia.

Disinggung kenapa bisa terjadi, Liston mengaku tidak tahu. Ia tidak menuding bukan karena ulah masyarakat, namun beralasan faktor hujan. Yang kemudian, tingginya desakan air yang mengalir ke rumah penduduk lainnya, selain terkhusus ke rumah pendudukan Jalan Karya dan Jalan RSU yang mengalami kekrisisan.

“Air naik hingga pipa dapat pecah,” katanya. Menurut Liston, ketinggian dari sumber air memang mencapai 100 meter ke rumah penduduk. Dia tak dapat membayangkan, dari kota Dolok Sanggul ke sumber mata air mencapai 20 kilo.

Disinggung kenapa ketika diperbaiki, air bersih menjadi bercoklat-coklatan, Liston menjelaskan berpengaruh dari lumpuran kebukitan akibat hujan. “Sumber air inikan dari keterbukaan, yaitu sungai, jadi bisa saja karena hujan, lumpur itu berjatuhan,” katanya.

Untuk itu, kata dia, dari persoalan itu pihaknya akan mengalihkan pipa air dari kedua jalan tersebut ke tempat lain yang masih sama sumber mata airnya dari Hutajulu. Dan diapun tidak menampik, sebagian masyarakat disekitaran itu beralih untuk mendapatkan sumber air bersih ke sumir bor, akibat kejadian tersebut. “Hanya itu saja yang bisa mengatasinya, kita akan alihkan pipa ini dalam waktu dekat,” katanya. (des/han/smg)

USI