News

Warga Hajoran Krisis Air Bersih

TAPTENG, FaseBerita.ID – Krisis air bersih melanda Kelurahan Hajoran Induk dan Kelurahan Hajoran Indah, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Dua ratusan Kepala Keluarga (KK) di dua kelurahan bertetangga ini  mengalami krisis air bersih.

Krisis air bersih diakibatkan karena pasokan air yang mengalir pada instalasi pipa milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Mual Nauli tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan warga. Hal ini ditenggarai akibat jumlah konsumen yang semakin banyak. Sementara debet air yang mengalir semakin mengecil.

“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa membeli air ke depot-depot penjualan air bersih. Sementara untuk mencuci pakaian, warga eksodus ke sungai Sibuluan,” terang Parulian Silitonga, warga Hajoran Indah, Selasa (17/6/2019).

Dipaparkannya, krisis air bersih ini mulai terasa sejak awal Ramadhan kemarin. Sumber air menuju bak penampungan air mengecil, sementara warga yang membutuhkan semakin banyak. Fenomena ini berdampak kepada pelanggan.

“Debet airnya tidak memenuhi standar, kenapa konsumen di tambah lagi. Sampai ada yang membayar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Apakah hanya gara-gara mengejar setoran, pelayanan dinomorduakan?” kata Parulian dengan nada kesal.

Ketua BKM Al Mustaqim Bugis Kelurahan Hajoran Indah ini berharap kiranya PDAM Mual Nauli menambah debit air di wilayah mereka. Biaya masuk dan rekening bulanan yang dibebankan selaiknya diikuti dengan perbaikan kualitas dan peningkatan layanan pihak direksi PDAM Mual Nauli.

“Seharusnya kewajiban yang dibebankan kepada pelanggan harus diikuti penambahan debit air dan peningkatan layanan,” harapnya.

Ia juga meminta agar Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Tapteng turun tangan dalam menangani persoalan tersebut. Karena bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, krisis air bersih sudah merambah ke pemenuhan ibadah warga. Beberapa. masjid sudah tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan air wudhu para jamaah.

“Untuk ambil uduk di masjid Al Mustaqim pun air sudah tidak ada. Akibatnya pengurus masjid juga yang disalahkan,” pungkasnya.

Hingga berita ini dikirimkan, Direktur PDAM Mual Nauli, Puspa Aladin Sibuea, belum berhasil. dikonfirmasi. (ztm)