News

Warga Asahan Pengedar 11 Kg Sabu Divonis Mati

MEDAN,FaseBerita.ID-Warga Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut) Syamsul Bahri dijatuhi hukuman mati karena mengedarkan narkoba seberat 11 kilogram. Syamsul mengaku dijanjikan upah Rp 15 juta oleh seseorang yang berjuluk ‘big bos’ apabila paket sabu sudah sampai di Medan. Hal itu tertuang dalam putusan Pengadilan Tinggi (PT) Medan, Senin (29/3).

Kasus bermula saat Syamsul ditelepon oleh ‘big bos’ bernama Daeng, 11 Maret 2020. Daeng meminta Syamsul mengedarkan 11 kilogram sabu-sabu dengan upah Rp 15 juta. Syamsul menyanggupi dengan alasan lagi butuh uang. Keduanya kemudian bertemu di Jalan Selat Lancang. Tujuan sabu dikirim ke Medan. Syamsul ditemani oleh Ponisan. Sabu ditempatkan di jok mobil.

Pada 12 Maret 2020 dini hari, mobil yang dikendarai Syamsul dan Ponisan melintas di Jalan Lintas Sumatera, Perkebunan Tanah Datar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Asahan. Keduanya tiba-tiba dihadang Tim BNN dan bukti 11 kilogram sabu ditemukan. Paket sabu itu disarukan ke dalam bungkus teh. Keduanya tidak bisa mengelak sehingga diproses secara hukum. Syamsul dan Ponisan diadili dengan berkas terpisah.

Pada 15 Desember 2020, Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan pidana terhadap Syamsul dengan pidana mati. Putusan itu sesuai tuntutan jaksa. Syamsul tidak terima dan mengajukan banding. Lantas, apa kata majelis tinggi?

“Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Medan yang dimintakan banding tersebut,” kata ketua majelis Sahman Girsang dengan angggota Railam Silalahi dan Wayan Karya.

Pengadilan Tinggi Medan berpendapat pertimbangan hukum majelis hakim tingkat pertama yang menyatakan Syamsul telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan permufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum menjadi perantara dalam jual beli narkotika Golongan I yang beratnya lebih dari lima gram telah tepat dan benar sesuai dengan fakta-fakta yang diperoleh dari alat-alat bukti yang diajukan di persidangan.

“Oleh karena itu Pengadilan Tinggi dapat menyetujui dan mengambil alih pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim Tingkat pertama tersebut menjadi pertimbangan Pengadilan Tinggi sendiri dalam mengadili perkara ini dalam tingkat banding,” beber majelis. (dtc/int/fabe)

USI