News

Universitas Asahan Harus jadi Kebanggan Masyarakat

FaseBerita.ID – Sebagai universitas yang terletak di wilayah garis pantai timur Sumatera tepatnya di Kabupaten Asahan, Universitas Asahan (UNA) didirikan bermula dari niatan luhur kaum terdidik dari Bumi Rambate Rata Raya, agar kelak anak-anak Asahan khususnya kalangan ekonomi lemah bisa sekolah tinggi tanpa harus keluar provinsi.

Masyarakat Asahan harus berbangga dengan hadirnya UNA dapat memberikan keringanan dalam biaya kuliah, dibanding kuliah di luar daerah yang status perguruan tingginya sama terakreditasi B.

Demikian dikatakan Wakil Rektor III Universitas Asahan Ir H Ansoruddin Harahap MP yang juga alumni UNA saat berbincang bersama wartawan, Selasa (27/8/2019).

“Saya tahun 1990 masuk ke UNA sebagai pegawai administrasi, kemudian saya diangkat menjadi Kepala Biro Umum, dan dalam masa-masa tertentu saya juga mengajar di fakultas pertanian. Pada tahun itu gaji dosen tetap UNA Rp40 ribu per bulan dan pegawai Rp50- Rp100 ribu per bulan,” ujarnya.

Selanjutnya, pria yang juga menjabat sebagai pembantu rektor bidang kemahasiswaan ini mengatakan, UNA dulu dibangun dengan rasa kekeluargaan yang erat, sehingga walau dalam kondisi keuangan terbatas para dosen dan pegawai tetap semangat membangun UNA, hingga akhirnya pernah ada tim sepak bola UNA bermain di Makassar.

Saat ini, dengan jargon akselerasi menuju UNA unggul, perguruan tinggi yang pimpin Rektor Prof Ibnu Hajar MSi telah memiliki 5 fakultas dan 13 prodi yang hampir semua prodi sudah terakreditasi B oleh BAN PT.

“Tapi dengan kemajuan UNA saat ini disayangkan perhatian masyarakat terhadap UNA sangat minim, hal ini dapat dilihat bahwa hanya 30 persen masyarakat Asahan yang mengkuliahkan anak-anaknya di UNA,” kata Ansoruddin lagi.

Padahal, kalau dilihat kualitas UNA hari ini sudah bisa dikatakan seperti perguruan swasta yang ada di luar daerah. Kurang antusiasnya masyarakat terhadap keberadaan UNA saat ini yang sedang berkembang pesat diharapkan hanya menunggu waktu saja. Sebab, sambungnya, kemajuan kampus juga diimbangi saat ini dengan sumber daya dosen yang sudah banyak S3, dan sedang studi S3. Artinya, UNA terus berpacu untuk menyamakan kualitasnya dengan perguruan tinggi swasta lainnya.

“Di dalam membangun perguruan tinggi seperti UNA yang dasarnya adalah yayasan milik Pemkab Asahan, tapi karena peraturan baru tentang yayasan sehingga Pemkab Asahan tidak boleh lagi memegang UNA. Jadi, UNA diserahkan kepada masyarakat Asahan untuk mengelolanya, maka seharusnya juga pemerintah Asahan harus bisa membantu UNA menjadi perguruan tinggi yang bisa dibanggakan oleh masyarakat Asahan,” ucapnya.

Pemerintah Asahan diharapkan harus bisa merumuskan anggaran tetap untuk UNA, sehingga UNA tidak terlalu memberatkan mahasiswa dalam uang kuliah seperti pemberian lahan untuk pendapatan UNA.

“Selain dari uang kuliah mahasiswa, kreativitas mahasiswa menciptakan peluang wirausaha dengan memberdayakan potensi alam kampus juga termasuk ikut menghidupi UNA, yang mana hasil dari situ juga kembali ke mahasiswa misalnya membantu uang kuliah mahasiswa tak mampu,” terangnya mengakhiri. (ck-04/per/ahu)