News

Tunggul Keramat di Pulau Raja Asahan Butuh Sentuhan Tangan Pemerintah

ASAHAN, FaseBerita.ID – Bagi warga di Kecamatan Pulau Rakyat Kabupaten Asahan, keberadaan tunggul yang berlokasi persis di jalan lintas sumatera (jalinsum) Medan-Rantau Prapat ini, pasti sudah tak asing lagi.

Lokasinya berada di area HGU perkebunan kelapa sawit PTPN IV Pulu Raja. Oleh masyarakat sekitar daerah ini biasa disebut Simpang Tunggul. Konon, desa Tunggul 45 yang merupakan bagian dari daerah administrasi kecamatan Pulau Raja ini, diambil dari tempat itu.

Hingga saat ini, sayangnya tak seorangpun mengetahui persis asal muasal tunggul itu berada. Berdasarkan cerita turun temurun warga setempat, tunggul itu muasalnya dari sebuah pohon kayu raja yang diperkirakan usianya lebih dari 100 tahun.

Ekspansi lahan oleh PTPN IV yang saat itu ingin menjadikan lokasi tersebut sebagai area perkebunan kelapa sawit tak sanggup untuk meratakan pohon tersebut hingga tersisa sebuah tunggul kayu besar yang hinngga kini masih berdiri kokoh.

Cerita lainnya, tunggul yang sudah berusia seratusan tahun itu dijadikan tempat pusat informasi antara pejuang kemerdekaan dari Kecamatan Bandar Pulau, Aek Kuasan, Pulau Rakyat dan sekitarnya bersama warga. Saat itu lokasi ini merupakan jalur perdagangan stategis melintasi sungai Asahan menuju selat malaka, hingga tentara Belanda sangat bernafsu menaklukkan daerah ini yang memiliki pelabuhan sungai yang bisa dilintasi kapal besar.

Sementara itu, kisah lain di lokasi tunggul yang berdekatan dengan jalan lintas tersebut juga disebut sebut sebagai kawasan yang rawan lalu lintas dan banyak menelan korban jiwa.

Caranya, warga meletakkan beberapa buah batu disekitar pokok kayu yang sekarang menjadi tunggul itu untuk memberikan informasi dan sandi kepada para pejuang dan tentara Indonesia guna memberikan informasi berapa banyak kekuatan musuh (Belanda) yang berada di kecamatan Bandar Pulau dan sekitarnya.

“Jadi kalau misalnya ada tentara Belanda disini sepuluh orang maka akan diletakkan sepuluh batu di sekitar tunggul oleh warga agar para pejuang tahu dan bisa mengantisipasi pergerakan musuh,” ucap Paimin saat berbincang bersama koresponden Metro Asahan, Jumat (6/9/2019).

Sementara itu, menurut kesaksian Masdi Manurung, yang juga merupakan mantan kepala desa Tunggul 45, menjabat pada tahun 2000 hingga tahun 2011 ini, mengaku dijaman pemerintahannya kemudian membangun rumah joglo di tunggul itu.

“ Rumah jonglo Tunggul 45 itu dimasa pemerintahan saya waktu jadi kepala desa dibangun. Dengan menggunakan ADD (Anggaran Dana Desa) pertama tahun 2009. Tujuannya untuk mempertahankan simbol Desa Tunggul 45 yang memiliki historis sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa,” ujarnya.

Dikisahkan Masdi, joglo Tunggul 45 itu dibangun pada masanya itu juga atas inisiatif Alm. Dahman Sitorus yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah di afdeling III Desa Tunggul 45.

Semasa hidupnya Dahman minta kepada Masdi agar apabila dirinya menjadi Kepala Desa supaya memugar Tunggul itu, karena merupakan simbol Desa Tunggul 45 yang menyimpan historis perjuangan luar biasa untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Setelah pembangunan itu, kawasan tunggul menjadi semakin dikeramatkan warga hingga mengalami renovasi pemasangan keramik lantai oleh Edi Supri saat menjabat sebagai Manager Unit PTPN IV Pulu Raja pada tahun 2017.

“Tunggul itulah yang menjadi ikon nama Desa Tunggul 45 saat ini. Kalau tunggul itu tidak dipertahankan dan sampai dibakar orang habislah kenangan sejarah Tunggul 45,“ papar Eddi Sunarto menimpali selaku Kepala Desa Tunggul 45 yang saat ini menjabat.

Mistis Dikawasan Tunggul

Mitos lain yang berkembang di masyarakat, Jalinsum kawasan Simpang Tunggul ini sangat terkenal dengan rawan lakalantas, konon kabarnya jalan Simpang Tunggul yang menghubungkan dengan Pondok Afdeling III Desa Desa Tunggul 45 merupakan tempat lalulalangnya mahluk halus dari pegunungan di Kecamatan Bandar Pulau hingga hutan nantalu di Kecamatan Pulau Rakyat.

Bila ditarik garis lurus jalan yang dilintasi mahluk halus sejajar dengan tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti Titi Keling di Desa Aek Nagaga, Kecamatan Aek Songsongan, Pondok XII Desa Manis yang dikenal Batuh Pecah, Simpang Tunggul, Bayu Anyes, Kuburan Tong di Desa Tung 45 yang letaknya tidak berjauhan.

Masih kata Masdi, pada tahun 1980-an Tunggul 45 selalu dianggap sebagai tempat keramat yang sering didatangi banyak orang penggila undian nomor berhadiah seperti Porkas, SDSB, TSSB dan SDSB untuk meminta pada roh halus dengan memberi sesajen.

Masdi pun mengenang, peristiwa aneh pernah terjadi ketika pelebaran Jalinsum, Tunggul bersejarah itu dipindahkan dengan alat berat bulldozer ke areal kebun, tetapi esoknya tunggul itu berpindah secara misterius ke tempat semula.

“Atas petunjuk orang pintar, setelah dilakukan pemotongan kambing barulah Tunggul itu bisa dipindahkan ke seberang parit bekoan dan tidak lagi pindah hingga sekarang ini “ tandas pria pensiunan karyawan PTPN 4 Pulu Raja yang masih aktif mengajar di MTs Al Manar Pulu Raja itu.

Disadari atau tidak, tunggul yang berada di desa Tunggul 45 Kecamatan Bandar Pulau merupakan saksi sejarah perjuang kemerdekaan bersama warga setempat. Sayangnya Pemkab Asahan belum melirik pemugaran dikawasan tunggul itu untuk dijadikan situs bersejarah di Kabupaten Asahan. (Per)