News

Terancam Tak Melaut, Nelayan Kesulitan Dapat BBM Bersubsidi

RANTAURAPAT, FaseBerita.ID – Sejumlah masyarakat nelayan tradisional di Kabupaten Labuhanbatu mengaku kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dan bensin, di lokasi kampung nelayan di daerah Kecamatan Panai Hilir. Mereka khawatir tidak dapat melaut dan mendapatkan ikan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Hal tersebut diungkapkan beberapa nelayan yakni, Amir, Syahrul dan Zulham warga Lingkungan VI dan V, Kelurahan Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Minggu (23/6/2019) malam.

Mereka menyebutkan, BBM jenis solar di Kampung Nelayan, Kelurahan Kota Sei Berombang, dalam beberapa hari terakhir sulit didapat. Kalaupun ada, warga harus membayar sedikit lebih tinggi untuk harga per liternya yakni, Rp7500 ribu dari harga normal Rp6500 per liternya.

Sedangkan BBM jenis pertalite di kampung nelayan mencapai Rp8500 per liter. Sementara setiap kebutuhan nelayan tradisional dalam sekali melaut membutuhkan sebanyak 20 liter BBM untuk setiap harinya.

“Dalam beberapa hari belakangan, kami sulit mendapatkan BBM jenis solar. Entah apa masalahnya, kami tidak mengerti. Biasanya saya membeli dekat rumah. Kemarin tidak ada BBM jenis solar dijual disitu, katanya habis, belum datang. Kami bingung mau mencari kemana. Kalau begini, nelayan tradisional Sei Berombang terancam tak dapat melaut,” keluh mereka kepada wartawan.

Mereka juga mengungkapkan, dalam beberapa pekan terakhir, hasil tangkapan nelayan tradisional juga jauh berkurang disebabkan juga faktor cuaca, sehingga pendapatan ekonomi masyarakat kian terpuruk. Hal itu diperparah dengan sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi di daerah itu. Namun, mereka harus tetap melaut untuk berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Penghasilan nelayan tradisional saat ini sangat terpuruk, hasil tangkap ikan jauh berkurang, gaji anggota melaut rata-rata hanya menerima Rp50 ribu hingga Rp40 ribu per hari. Bayangkan nasib anak mereka bersekolah, belum lagi yang lain-lain, sangat miris,” kata Amir diamini para rekannya.

Mantan pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Labuhanbatu Manap Lubis menilai, kurangnya pasokan BBM untuk masyarakat nelayan tradisional mempengaruhi perekonomian dan berdampak langsung kepada masyarakat di daerah itu.

Menurut dia, pekerjaan nelayan merupakan mata pencarian mayoritas warga yang bermukim di pesisir Kabupaten Labuhanbatu, selain bertani dan di bidang wiraswasta.

Pihaknya mendesak pemerintah daerah mengambil langkah-langkah strategis dengan berupaya membangun SPBN dan mendukung penuh program BBM satu harga untuk nelayan, ataupun menambah kuota konversi Bahan Bakar Gas (BBG) nelayan dari BBM yang terhitung masih sedikit.

“Kelangkaan BBM jenis solar di Kota Sei Berombang akan berdampak buruk pada penghidupan sosial masyarakat nelayan. Kita miris melihat keadaan ini, saya berharap dan memohon pemangku kepentingan dapat mencari solusi yang dialami masyarakat nelayan tradisional di Sei Berombang saat ini,” jelasnya kepada sejumlah wartawan.

Ia juga meminta elemen masyarakat memandang positif perihal keberadaan BBM di Kecamatan Panai Hilir, dengan tidak menghilangkan tatanan kehidupan nelayan pada aturan hukum yang berlaku.

“Jumlah perahu nelayan di Kecamatan Panai Hilir berkisar ribuan unit, hampir keseluruhannya nelayan kecil dan tradisional. Jika keseluruhan terancam melaut akan berdampak buruk bagi masyarakat disini,” tandasnya. (bud/ahu)

USI